“Aku merasa, kamu merasa.
Kamu memilih diam dan aku
menunggu. Hingga semuanya terlambat”
Aku
tersenyum sendiri. Menikmati setiap gradasi warna yang berubah. Musim panas
adalah musim kemenanganku dan sore adalah waktuku. Ada kehangatan yang
kurasakan disela-sela jariku disertai kelembutan yang menggenggam. Aku
menengadah menantang langit, aku yakin saat ini Tuhan sedang melukis langit
dengan pena jingga kelananya. Tentu saja aku meyakininya seperti yang sering
ayah ceritakan semasa hidupnya. Waktu terus berjalan dan aku sangat
menyukainya, bahkan jika dapat kuhentikan pergeseran jarum jam akan kulakukan.
Namun tentu saja itu hanya imaji yang tak akan mungkin terjadi, meski
diusahakan waktu tak bisa ku kendalikan. Kini aku melihat jingga hilang dan
biru pun mulai merambati langit. Tuhan telah bosan menggunakan pena jingga
kelananya untuk hari ini. Kegiatan yang paling aku sukai sejak ayah telah
tiada, sendiri atau ada yang menemani, seperti sore ini.
Telapak
tangan kananku mulai berkeringat, sore di musim panas memang tetap hangat. Tapi
kini berbeda, bukan karena udara dan cuaca. Sedari tadi temanku menikmati sore
ada disampingku, menggenggam dan menatapku. Aku tak peduli karena terlalu sibuk
melihat kertas gambar Tuhan di musim ini.
Langit
telah benar-benar berubah warna, kini menjadi sewarna tanpa gradasi, gelap dan
jernih. Alam mengubah konstelasinya, tetap indah dengan taburan bintang dan
bulan yang selalu setia pada bumi. Semilir angin semakin kencang. Aku tak bisa
tetap pura-pura untuk mengabaikan ia yang ada disampingku. Tapi aku terlalu
takut untuk memulai berbicara, otakku kosong tak ada ide untuk ku ubah menjadi
sebuah topik menarik. Begitulah aku ketika menikmati alam, sedari kecil aku
selalu menikmati alam dalam diam, ayahlah yang berceloteh dengan peluh di
dahinya, mengubah apa yang terpetakan oleh indera penglihatan ke dalam pikiran
dan hati. Kini, masih dalam diam, aku menikmati alam berdasarkan memori tentang
ayah.
Semilir
angin malam dan hembusan nafas saja yang menguasai malam itu. Dalam hati aku
berhitung hingga sepuluh, pada hitungan kesepuluh itu aku akan membuat suasana
ini menjadi berubah.
Enam!
Hanya sampai hitungan keenam, dia mengalihkan pandangannya dari aku. Aku
tersenyum, merasa lega karena mulai kaku dengan pandangannya, serba salah. Dia
menatap langit, sekilas aku melirik dengan sudut mata dan melihat dia tersenyum
saat melihat malam. Aku menunduk, leherku mulai pegal karena terlalu lama
menengadah. Dia melepaskan genggamannya, aku menarik tangan.
“Langitnya
indah ya?” tanyanya padaku,
“Aku
lebih suka lembayung tadi” jujur aku menjawab
“Tapi
malam kamu bisa melihat bintang, penunjuk arah buat nahkoda yang tersesat”
“Kamu
membenci langit sore?” selidik ku ketus
Dia
hanya tersenyum dan menggeleng. Aku bingung setengah mati akan jawabannya.
“Lantas
apa yang kamu lakukan?” ujarku
“Bukan
apa-apa, hanya ingin menemanimu.”
Aku
menatapnya lama, dia tersenyum, mengelus rambutku dan mengacaknya perlahan.
“Apa
yang kamu pikirkan? Tidak penting kenapa aku disini, aku akan selalu menemani
kamu.”
***
Rasanya aku telah menjadi gila,
bagaimana bisa aku bertahan dengan wanita yang cukup aneh disampingku ini.
Sedari tadi dia hanya menengadah, memandang langit yang berwarna jingga itu,
dan aku sangat merasa dipusingkan. Rabun ayam. Sore seperti inilah yang tak
berpihak kepadaku, seolah dunia menjauhiku. Tapi ada yang lain di soreku kini,
aku memilih untuk memandangi sosok indah disampingku, semacam alien tapi ini
cantik.
Astari,
memang nama yang unik dan terdengar sangat familiar di telingaku. Sejak aku
kenal dia seolah menjadi pusat perhatian, ya setidaknya bagiku. Entah rasanya
tiba-tiba aku tidak bernyali, tak semudah sebelumnya. Aku mudah menafsirkan
rasa, tidak kali ini. Aku hanya ingin bersamanya, aku tidak sedang jatuh cinta
padanya. Aaah apalah artinya ini, aku hanya ingin menghabiskan waktu
bersamanya. Itu saja sudah cukup bagiku.
***
Musim telah berganti, perputaran
waktu setengah tahun terlewati. Kini aku ada di musim yang aku benci, dimana
Tuhan seolah menumpahkan cat kelabu pada kertas gambarnya. Musim penghujan,
musim dimana aku tak memiliki memori banyak tentang ayah. Hanya sekali aku dan
ayah pernah menikmati alam di musim penghujan.
Di
hari pertama musim penghujan ketujuh dalam hidupku, ayah mengajakku
bersenang-senang dengan alam. Saat tanah masih sangat gersang, mendung pertama
datang dan tetesan air berebut untuk saling melepaskan dahaga bumi. Aromanya,
perpaduan panas tanah dan dinginnya air, sejuk menyegarkan dan tak akan
terlupa. Aku suka, tapi rasanya aneh. Hujan di musim penghujan ketujuh itu
sangat deras, ayah membiarkan aku berjalan tanpa alas kaki di rerumputan yang
terbentang. Kaki telanjangku mulai melesak tanah becek, geli, dingin, dan yaaa
sedikit menjijikan. Kemudian ayah mengajakku terlentang di rumput yang becek
itu, aku turuti, sebenarnya aku mulai menggigil. Menyenangkan rasanya menantang
langit dan menikmati tetesan air yang berebut menyentuh kulit, kami tertawa.
Kemudian aku membuka mata dan melihat putih, masker oksigen terpasang, badanku
demam, dada sesak sekali, tapi sangat merasa bertenaga, aneh.
Kini
aku tahu dan ayah sangat menyesal, aku alergi terhadap dingin, kehujanan
membuat asmaku kumat. Perasaan aneh itu akibat dari suntikan adrenalin. Mulai
saat itulah aku membenci musim penghujan, tak ada acara menikmati alam bersama
ayah, sejak saat itu di setiap musim penghujan, ayah memilih membiarkanku tetap
di dalam rumah, membaca buku cerita atau membiarkanku bermain Nintendo sendirian
sepuas hatiku.
Setiap
musim penghujan gerak kakiku terbatas, setiap kegiatan yang kulakuan diluar
ruangan harus aku selesaikan sebelum hujan datang. Tapi dia tetap menemani,
kadang dengan kehadiran atau melalui teknologi. Banyak sore mendung yang kami
habiskan bersama, meski hanya dengan menonton Sponge Bob di ruang tv rumahku
bersama coklat panas atau kadang-kadang cupcakes coklat yang dibuatkan Ibu
khusus buat Mas Bagas, begitu biasa Ibu memanggilnya. Aku sangat menyukai acara
kartun Sponge Bob, tertawa bersama bahkan pada tayangan yang telah diputar
berulang oleh stasiun televisi itu.
Sepertinya,
musim panas ataupun penghujan aku tetap ingin menghabiskan waktu bersamanya.
***
Aku
tidak tahu apa yang membuat dia begitu murung, sulit sekali mengajaknya keluar.
Sejak sekitar satu bulan ini, aku kira dia menghindari aku karena penolakannya
terhadap ajakanku bertemu. Sesekali aku mengunjungi rumahnya, berkenalan dengan
Ibu nya yang ramah. Meski kami tetap bertemu, tetap aneh rasanya. Di rumahnya
aku tak dapat leluasa memandanginya, banyak waktu kami habiskan hanya untuk
menonton film kartun Sponge Bob yang sebenarnya tak ku mengerti tentang cerita
makhluk kotak kuning itu. Tapi aku ikut senang saja melihat dia, Astari si
alien cantik, tertawa terbahak-bahak saat adegan lucu. Aku hanya menikmati
coklat panas dan sesekali cupcakes coklat yang disuguhkan.
Dia
memang tergila-gila pada tokoh kartun kotak kuning itu, saat di kampus dia
bercerita bahwa dia ingin sekali hidup di Bikini Bottom. Menu favoritnya di
kantin kampus adalah beef burger dan dia selalu mengatakan crabby patty saat
memesannya, abang penjual hanya tersenyum paham karena hapal.
Aku
merasa terjebak dalam dunia yang sama sekali bukan aku, aku menikmatinya
sekaligus khawatir. Dia seolah tak paham setiap isyarat yang aku tunjukkan. Dia
tak peduli pada perhatianku. Seolah dia memiliki dunia sendiri dan berusaha
membaginya denganku. Aku merasa tak mampu bertahan seperti ini, tapi jika
menyerah, aku pun tak mampu bertahan tanpa dia.
***
Mungkin
ini yang namanya orang bilang jatuh cinta. Aku tak butuh alasan karena memang
tak ada penjelasan yang menyertai. Aku merasa dia lah pusat gravitasiku, sama
halnya seperti gravitasi bumi membuat segalanya jatuh menuju bumi. Segalanya
tertuju padanya, aku jatuh padanya, jatuh cinta pada Bagas.
Tidak
banyak waktu yang kami habiskan bersama, tapi setiap pertemuannya begitu
berarti. Tidak banyak cerita yang kami utarakan satu-sama-lain, tapi banyak
mimpi yang menginspirasi satu sama lain. Saat dia disampingku segalanya menjadi
bermakna, meski sederhana dan dalam diam, dia selalu ada menemaniku. Kini aku
paham, aku akan melakukan hal yang sama, mencintainya dalam diam.
***
Musim
panas telah datang kembali, tetap dengan pesonanya. Namun baru kali ini aku
merasa bersedih memandang lembayung. Cukup saja satu kali musim panas dan satu
kali musim penghujan yang dilalui bersama dia. Tak ada lagi teman yang
menggenggam jemari saat langit berwarna jingga. Meski Tuhan melukis langit
dengan pena jingga kelananya tapi hatiku kelabu. Aku telah terlambat, sama
seperti musim panas yang terlambat datang disaat musim penghujan kala bumi
mulai banyak berubah akibat rotasinya.
Penyesalan
datang karena aku memilih diam, bahkan berulah pun aku tak mampu. Aku, wanita
telah digariskan untuk menunggu, hanya mampu menerjemahkan isyarat yang
ditunjukan pria, Bagas. Selanjutnya hanya mampu menunggu, menunggu semampuku
dalam kesabaran.
***
Semuanya
telah berubah, aku telah mengambil keputusan. Segala isyarat yang ku tuang
dalam setiap tingkah-laku tak berarti, seolah aku telah bertransformasi menjadi
sosok yang sangat “bukan aku”. Astari tak bergeming dengan segala perhatian dan
kebaikan yang ku tujukan untuknya. Semuanya terasa sia-sia, terlalu mencolok
jika aku memaksakan menikmati sore jingga bersamaan dengan rabun ayamku, atau
aku harus tertawa pada ulah makhluk kuning yang berulang ditayangkan.
Musim
panas kali ini aku mencoba menjadi diriku sendiri, mampu mengartikan rasa pada
sosok anggun wanita, bukannya alien cantik. Mencoba manjalani sesuatu yang
seharusnya aku jalani bersama Astari, melakukan sesuatu yang sesuai dengan
akalku dan siapa diriku. Menikmati musim panas juga musim penghujan tanpa
pengecualian. Musim panas telah berlalu seiring perputaran waktu.
Di
musim penghujan kali ini, aku bisa menikmati hari dengan seseorang tanpa harus
terkungkung di dalam rumah. Seperti hari ini misalnya, kami menikmati makan
siang di café dan memilih kursi tenda di teras café dibawah rintik hujan yang
membuat basah, toh di atas meja kami ada payungnya. Pelayan café berpakaian
necis menghampiri,
“Pesan
apa kak?”
Spontan
aku menjawab, “Crabby patty-nya dua dengan ekstra mayonnaise ya, dan jus jeruk
dua” aku merasa ganjil, suaraku sepertinya menggantung.
“Crabby
patty?”
“Ah
ya maksudku beef burger”
“Ada
lagi kak?”
“Cukup
itu saja.”
Setelah
mengulang pesananku, pelayan tersebut meninggalkan kami dengan sangat sopannya.
“Sayang,
aku baru tahu cowo kaya kamu ternyata masih suka nonton kartun.”
Aku
terjebak, terjebak dalam kenangan bersama Astari. Kini aku merasa telah
kehilangannya, ternyata hal yang awalnya tidak aku sukai perlahan telah aku
biasakan dalam kehidupanku hingga aku merasakan saat telah kehilangan moment
itu. Aku menyadari cinta tak butuh kesamaan, dalam perbedaan kami, aku dan
Astari, saling melengkapi. Tapi waktu tak akan berputar mundur, sama seperti
hujan; selalu jatuh dari langit menuju gravitasinya, tidak akan pernah terjadi
melawan gravitasinya. Tidak pernah!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar