Jumat, 20 April 2012

Sore Jingga Kelana


“Aku merasa, kamu merasa.
Kamu memilih diam dan aku menunggu. Hingga semuanya terlambat”



Aku tersenyum sendiri. Menikmati setiap gradasi warna yang berubah. Musim panas adalah musim kemenanganku dan sore adalah waktuku. Ada kehangatan yang kurasakan disela-sela jariku disertai kelembutan yang menggenggam. Aku menengadah menantang langit, aku yakin saat ini Tuhan sedang melukis langit dengan pena jingga kelananya. Tentu saja aku meyakininya seperti yang sering ayah ceritakan semasa hidupnya. Waktu terus berjalan dan aku sangat menyukainya, bahkan jika dapat kuhentikan pergeseran jarum jam akan kulakukan. Namun tentu saja itu hanya imaji yang tak akan mungkin terjadi, meski diusahakan waktu tak bisa ku kendalikan. Kini aku melihat jingga hilang dan biru pun mulai merambati langit. Tuhan telah bosan menggunakan pena jingga kelananya untuk hari ini. Kegiatan yang paling aku sukai sejak ayah telah tiada, sendiri atau ada yang menemani, seperti sore ini.
Telapak tangan kananku mulai berkeringat, sore di musim panas memang tetap hangat. Tapi kini berbeda, bukan karena udara dan cuaca. Sedari tadi temanku menikmati sore ada disampingku, menggenggam dan menatapku. Aku tak peduli karena terlalu sibuk melihat kertas gambar Tuhan di musim ini. 
Langit telah benar-benar berubah warna, kini menjadi sewarna tanpa gradasi, gelap dan jernih. Alam mengubah konstelasinya, tetap indah dengan taburan bintang dan bulan yang selalu setia pada bumi. Semilir angin semakin kencang. Aku tak bisa tetap pura-pura untuk mengabaikan ia yang ada disampingku. Tapi aku terlalu takut untuk memulai berbicara, otakku kosong tak ada ide untuk ku ubah menjadi sebuah topik menarik. Begitulah aku ketika menikmati alam, sedari kecil aku selalu menikmati alam dalam diam, ayahlah yang berceloteh dengan peluh di dahinya, mengubah apa yang terpetakan oleh indera penglihatan ke dalam pikiran dan hati. Kini, masih dalam diam, aku menikmati alam berdasarkan memori tentang ayah.
Semilir angin malam dan hembusan nafas saja yang menguasai malam itu. Dalam hati aku berhitung hingga sepuluh, pada hitungan kesepuluh itu aku akan membuat suasana ini menjadi berubah.
Enam! Hanya sampai hitungan keenam, dia mengalihkan pandangannya dari aku. Aku tersenyum, merasa lega karena mulai kaku dengan pandangannya, serba salah. Dia menatap langit, sekilas aku melirik dengan sudut mata dan melihat dia tersenyum saat melihat malam. Aku menunduk, leherku mulai pegal karena terlalu lama menengadah. Dia melepaskan genggamannya, aku menarik tangan.
“Langitnya indah ya?” tanyanya padaku,
“Aku lebih suka lembayung tadi” jujur aku menjawab
“Tapi malam kamu bisa melihat bintang, penunjuk arah buat nahkoda yang tersesat”
“Kamu membenci langit sore?” selidik ku ketus
Dia hanya tersenyum dan menggeleng. Aku bingung setengah mati akan jawabannya.
“Lantas apa yang kamu lakukan?” ujarku
“Bukan apa-apa, hanya ingin menemanimu.”
Aku menatapnya lama, dia tersenyum, mengelus rambutku dan mengacaknya perlahan.
“Apa yang kamu pikirkan? Tidak penting kenapa aku disini, aku akan selalu menemani kamu.”
***
            Rasanya aku telah menjadi gila, bagaimana bisa aku bertahan dengan wanita yang cukup aneh disampingku ini. Sedari tadi dia hanya menengadah, memandang langit yang berwarna jingga itu, dan aku sangat merasa dipusingkan. Rabun ayam. Sore seperti inilah yang tak berpihak kepadaku, seolah dunia menjauhiku. Tapi ada yang lain di soreku kini, aku memilih untuk memandangi sosok indah disampingku, semacam alien tapi ini cantik.
Astari, memang nama yang unik dan terdengar sangat familiar di telingaku. Sejak aku kenal dia seolah menjadi pusat perhatian, ya setidaknya bagiku. Entah rasanya tiba-tiba aku tidak bernyali, tak semudah sebelumnya. Aku mudah menafsirkan rasa, tidak kali ini. Aku hanya ingin bersamanya, aku tidak sedang jatuh cinta padanya. Aaah apalah artinya ini, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya. Itu saja sudah cukup bagiku. 
***
            Musim telah berganti, perputaran waktu setengah tahun terlewati. Kini aku ada di musim yang aku benci, dimana Tuhan seolah menumpahkan cat kelabu pada kertas gambarnya. Musim penghujan, musim dimana aku tak memiliki memori banyak tentang ayah. Hanya sekali aku dan ayah pernah menikmati alam di musim penghujan.
Di hari pertama musim penghujan ketujuh dalam hidupku, ayah mengajakku bersenang-senang dengan alam. Saat tanah masih sangat gersang, mendung pertama datang dan tetesan air berebut untuk saling melepaskan dahaga bumi. Aromanya, perpaduan panas tanah dan dinginnya air, sejuk menyegarkan dan tak akan terlupa. Aku suka, tapi rasanya aneh. Hujan di musim penghujan ketujuh itu sangat deras, ayah membiarkan aku berjalan tanpa alas kaki di rerumputan yang terbentang. Kaki telanjangku mulai melesak tanah becek, geli, dingin, dan yaaa sedikit menjijikan. Kemudian ayah mengajakku terlentang di rumput yang becek itu, aku turuti, sebenarnya aku mulai menggigil. Menyenangkan rasanya menantang langit dan menikmati tetesan air yang berebut menyentuh kulit, kami tertawa. Kemudian aku membuka mata dan melihat putih, masker oksigen terpasang, badanku demam, dada sesak sekali, tapi sangat merasa bertenaga, aneh.
Kini aku tahu dan ayah sangat menyesal, aku alergi terhadap dingin, kehujanan membuat asmaku kumat. Perasaan aneh itu akibat dari suntikan adrenalin. Mulai saat itulah aku membenci musim penghujan, tak ada acara menikmati alam bersama ayah, sejak saat itu di setiap musim penghujan, ayah memilih membiarkanku tetap di dalam rumah, membaca buku cerita atau membiarkanku bermain Nintendo sendirian sepuas hatiku.
Setiap musim penghujan gerak kakiku terbatas, setiap kegiatan yang kulakuan diluar ruangan harus aku selesaikan sebelum hujan datang. Tapi dia tetap menemani, kadang dengan kehadiran atau melalui teknologi. Banyak sore mendung yang kami habiskan bersama, meski hanya dengan menonton Sponge Bob di ruang tv rumahku bersama coklat panas atau kadang-kadang cupcakes coklat yang dibuatkan Ibu khusus buat Mas Bagas, begitu biasa Ibu memanggilnya. Aku sangat menyukai acara kartun Sponge Bob, tertawa bersama bahkan pada tayangan yang telah diputar berulang oleh stasiun televisi itu.
Sepertinya, musim panas ataupun penghujan aku tetap ingin menghabiskan waktu bersamanya.
***
Aku tidak tahu apa yang membuat dia begitu murung, sulit sekali mengajaknya keluar. Sejak sekitar satu bulan ini, aku kira dia menghindari aku karena penolakannya terhadap ajakanku bertemu. Sesekali aku mengunjungi rumahnya, berkenalan dengan Ibu nya yang ramah. Meski kami tetap bertemu, tetap aneh rasanya. Di rumahnya aku tak dapat leluasa memandanginya, banyak waktu kami habiskan hanya untuk menonton film kartun Sponge Bob yang sebenarnya tak ku mengerti tentang cerita makhluk kotak kuning itu. Tapi aku ikut senang saja melihat dia, Astari si alien cantik, tertawa terbahak-bahak saat adegan lucu. Aku hanya menikmati coklat panas dan sesekali cupcakes coklat yang disuguhkan.
Dia memang tergila-gila pada tokoh kartun kotak kuning itu, saat di kampus dia bercerita bahwa dia ingin sekali hidup di Bikini Bottom. Menu favoritnya di kantin kampus adalah beef burger dan dia selalu mengatakan crabby patty saat memesannya, abang penjual hanya tersenyum paham karena hapal.
Aku merasa terjebak dalam dunia yang sama sekali bukan aku, aku menikmatinya sekaligus khawatir. Dia seolah tak paham setiap isyarat yang aku tunjukkan. Dia tak peduli pada perhatianku. Seolah dia memiliki dunia sendiri dan berusaha membaginya denganku. Aku merasa tak mampu bertahan seperti ini, tapi jika menyerah, aku pun tak mampu bertahan tanpa dia.
***
Mungkin ini yang namanya orang bilang jatuh cinta. Aku tak butuh alasan karena memang tak ada penjelasan yang menyertai. Aku merasa dia lah pusat gravitasiku, sama halnya seperti gravitasi bumi membuat segalanya jatuh menuju bumi. Segalanya tertuju padanya, aku jatuh padanya, jatuh cinta pada Bagas.
Tidak banyak waktu yang kami habiskan bersama, tapi setiap pertemuannya begitu berarti. Tidak banyak cerita yang kami utarakan satu-sama-lain, tapi banyak mimpi yang menginspirasi satu sama lain. Saat dia disampingku segalanya menjadi bermakna, meski sederhana dan dalam diam, dia selalu ada menemaniku. Kini aku paham, aku akan melakukan hal yang sama, mencintainya dalam diam.
***
Musim panas telah datang kembali, tetap dengan pesonanya. Namun baru kali ini aku merasa bersedih memandang lembayung. Cukup saja satu kali musim panas dan satu kali musim penghujan yang dilalui bersama dia. Tak ada lagi teman yang menggenggam jemari saat langit berwarna jingga. Meski Tuhan melukis langit dengan pena jingga kelananya tapi hatiku kelabu. Aku telah terlambat, sama seperti musim panas yang terlambat datang disaat musim penghujan kala bumi mulai banyak berubah akibat rotasinya.
Penyesalan datang karena aku memilih diam, bahkan berulah pun aku tak mampu. Aku, wanita telah digariskan untuk menunggu, hanya mampu menerjemahkan isyarat yang ditunjukan pria, Bagas. Selanjutnya hanya mampu menunggu, menunggu semampuku dalam kesabaran.

***
Semuanya telah berubah, aku telah mengambil keputusan. Segala isyarat yang ku tuang dalam setiap tingkah-laku tak berarti, seolah aku telah bertransformasi menjadi sosok yang sangat “bukan aku”. Astari tak bergeming dengan segala perhatian dan kebaikan yang ku tujukan untuknya. Semuanya terasa sia-sia, terlalu mencolok jika aku memaksakan menikmati sore jingga bersamaan dengan rabun ayamku, atau aku harus tertawa pada ulah makhluk kuning yang berulang ditayangkan.
Musim panas kali ini aku mencoba menjadi diriku sendiri, mampu mengartikan rasa pada sosok anggun wanita, bukannya alien cantik. Mencoba manjalani sesuatu yang seharusnya aku jalani bersama Astari, melakukan sesuatu yang sesuai dengan akalku dan siapa diriku. Menikmati musim panas juga musim penghujan tanpa pengecualian. Musim panas telah berlalu seiring perputaran waktu.
Di musim penghujan kali ini, aku bisa menikmati hari dengan seseorang tanpa harus terkungkung di dalam rumah. Seperti hari ini misalnya, kami menikmati makan siang di café dan memilih kursi tenda di teras café dibawah rintik hujan yang membuat basah, toh di atas meja kami ada payungnya. Pelayan café berpakaian necis menghampiri,
“Pesan apa kak?”
Spontan aku menjawab, “Crabby patty-nya dua dengan ekstra mayonnaise ya, dan jus jeruk dua” aku merasa ganjil, suaraku sepertinya menggantung.
Crabby patty?”
“Ah ya maksudku beef burger
“Ada lagi kak?”
“Cukup itu saja.”
Setelah mengulang pesananku, pelayan tersebut meninggalkan kami dengan sangat sopannya.
“Sayang, aku baru tahu cowo kaya kamu ternyata masih suka nonton kartun.”
Aku terjebak, terjebak dalam kenangan bersama Astari. Kini aku merasa telah kehilangannya, ternyata hal yang awalnya tidak aku sukai perlahan telah aku biasakan dalam kehidupanku hingga aku merasakan saat telah kehilangan moment itu. Aku menyadari cinta tak butuh kesamaan, dalam perbedaan kami, aku dan Astari, saling melengkapi. Tapi waktu tak akan berputar mundur, sama seperti hujan; selalu jatuh dari langit menuju gravitasinya, tidak akan pernah terjadi melawan gravitasinya. Tidak pernah!
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar