Selasa, 30 Oktober 2012
Rabu, 17 Oktober 2012
Senin, 15 Oktober 2012
Bekal Buat Kamu
Saya tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap mencintai saya,
sama seperti saya tidak bisa memaksa pada siapa saya akan jatuh cinta.
Bahkan jika kini kamu bersikukuh untuk pergi,
saya akan tetap biarkan kamu pergi.
Bukan saya tak peduli.
Saya akan membekali kamu kok!
Saya beri kamu lima; sejumlah jari yang saya berikan untuk kita saling menggenggam, sejumlah yang kamu tampilkan jika kita berhasil satu hal.
Lima untuk sebotol oksigen, jaket tebal, mesin jahit, lentera, cabe rawit.
SEBOTOL OKSIGEN. Jika sesakmu kambuh hirup untuk melegakan hidupmu, atau hempaskan saja sama seperti kamu hempaskan saya.
JAKET TEBAL. Jika kamu menggigil, pakailah!
Kehangatannya serupa pelukan saya ke kamu.
Bila kamu merasa dingin, saya juga menggigil sendiri
MESIN JAHIT. Jika sanggup, kamu bisa kembali jahitkan kenangan, waktu, kepercayaan yang sempat robek.
Tolong sematkan benang merah antara kamu dan saya, saat kamu butuhkan pakaian yang layak.
LENTERA. Nyalakan dalam kegelapan, sinarnya akan menemani.
Sama seperti saya pernah menemani kamu.
Padamkan jika pagi datang, begitulah caramu padamkan harapanku.
CABE RAWIT. Kunyahlah disetiap jam makanmu,
rasakan pedasnya tapi kamu menikmatinya sebagai sensasi "rasa" lain dalam menu mu.
Serupa "rasa" mencintaimu kepada saya,
anggaplah penambah sensasi dalam hidupmu.
Kamu berhenti dan jera ketika "sariawan". Tapi kamu tahu hambar "rasa" pada menu makanmu, hidupmu, tanpa CABE RAWIT.
Selasa, 02 Oktober 2012
Langkah Kaki
Seperti keputusan awal yang kita buat bersama
dipertengahan kebersamaan kita
Setiap ketidakyakinan
atas intervensi dari pihak lain
Kita masih
memilih untuk saling percaya dan bersama
Percaya bahwa aku akan dapat menerimamu apa adanya
Percaya bahwa kamu akan menjadi yang tebaik,
Terbaik untuk
setengah perjalanan usiaku mengenalmu,
Dan bersama
selamanya untuk waktu yang kita tak pernah tahu sampai kapan.
Terpautnya hati
dan sadarmenyadarkan akan sulit untuk bersama
Kita memilih
untuk melakukannya
Aku berdiri di
atas kakiku, kamupun demikian.
Kita sama-sama
melangkah untuk satu tujuan di dua arah yang berbeda
Apalah itu
yang kutahu bahwa kita saling mendekat!
Aku melangkah
ke arah mu, kamu melangkah ke arah ku
Hingga pada akhirnya kita kan bertemu pada satu waktu-tempat-restu
Kelak mungkin
kita akan menyerah, entah aku atau kamu
Tapi tolong,
jangan terlalu cepat... biarkan...
Biarkan sampai
pada titik hati ini terlalu lelah untuk memperjuangkan
Tidak saling
meninggalkan atau ditinggalkan, peluhlah yang membuat demikian
Atau berilah
kesempatan waktu untuk membuktikan tatkala kita tak sanggup mendengarkan suara
hati
Waktu bisa buktikan, meski tak mampu memperingatkan
Siapa yang datang, pergi, atau selamanya bertahan
Atau waktu yang akan membiarkan bahwa peluh pun akan mengering dan menguap
Hingga kita lupa saat kembali beristirahat dan saling bersandar
Sekarang ataupun
nanti, berpeluh atau tertawa
Kamu telah
mengenalku :)
Langganan:
Komentar (Atom)

