Selasa, 30 Oktober 2012

Vino and Marsha Story Of Us, Kisah Cinta, Pertemanan dan Pernikahan


marsya: cinta itu indah tapi ngejalaninnya gak semudah dan gak semulus cerita di dongeng

vino: gue gak peduli orang yang mandang sebelah mata hubungan gue sama dia. gue gak takut sama orang-orang yang berusaha sekuat tenaga buat ngehancurin dan misahin gue sama dia. tapi yang gue takutin cuma satu..

marsya: yaitu saat gue ngebuka mata gue di pagi hari dan gue tau kalo dia udah gak cinta lagi sama gue. 

marsya: ibarat lego, gue seperti nemuin part dari hidup gue yang ilang. gue butuh dia dalam hidup gue. sama dia gue ngerasa komplit. gue ngerasa lebih punya arah dan tujuan hidup yang lebih pasti.

vino: sama dia gue nemuin tempat gue sendiri. rumah gue sendiri. gue nemuin dunia gue sendiri. nemuin apa artinya hidup yang Tuhan kasih.

marsya: sama dia gue ngerasa menjadi lebih hidup. ngerasa kalo keberadaan gue ini sangat berarti buat orang lain. gue ngerasa kalo ada orang lain yang sangat cinta sama gue.

vino: dan yang paling penting adalah saat sama dia gue baru tau dan gue baru bener-bener ngerasain yang namanya jatuh cinta.

marsya: hidup itu pilihan. kita sendiri yang nentuin kemana arah hidup kita. tapi kalo cinta?

vino: cinta gak bisa milih, apalagi buat dipaksain. tapi saat lo mulai sadar kalo yang rasain itu bener2 cinta, kejar terus! sampe matipun harus lo perjuangin.

marsya: gue baru tau kenapa Tuhan menciptakan manusia tidak ada yang sempurna. itu karena Tuhan udah nyiptain manusia lain yang akan jadi pasangan hidup kita untuk mengisi bagian yang tidak sempurna itu.

vino: agar kita melebur jadi satu bagian yang gak terpisahkan. saling isi kekurangan satu sama lain sehingga jadi sesuatu yang utuh, yang benar-benar sempurna.

(copywrite from Vino and Marsha Story Of Us, Kisah Cinta, Pertemanan dan Pernikahan.)

Rabu, 17 Oktober 2012

Kok ade tau aa pake no ini? | aa kan pernah sms ade pake no ini. | iya kenapa tau aa sekarang pake no ini? | feeling aja *entahlah a, hati ade menuntun untuk menghubungi aa ke no ini*

Senin, 15 Oktober 2012

Bekal Buat Kamu

Saya tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap mencintai saya, 

sama seperti saya tidak bisa memaksa pada siapa saya akan jatuh cinta.

Bahkan jika kini kamu bersikukuh untuk pergi,

saya akan tetap biarkan kamu pergi.

Bukan saya tak peduli.

Saya akan membekali kamu kok!

Saya beri kamu lima; sejumlah jari yang saya berikan untuk kita saling menggenggam, sejumlah yang kamu tampilkan jika kita berhasil satu hal.

Lima untuk sebotol oksigen, jaket tebal, mesin jahit, lentera, cabe rawit.



SEBOTOL OKSIGEN. Jika sesakmu kambuh hirup untuk melegakan hidupmu, atau hempaskan saja sama seperti kamu hempaskan saya.

JAKET TEBAL. Jika kamu menggigil, pakailah! 

Kehangatannya serupa pelukan saya ke kamu.

Bila kamu merasa dingin, saya juga menggigil sendiri

MESIN JAHIT. Jika sanggup, kamu bisa kembali jahitkan kenangan, waktu, kepercayaan yang sempat robek.

Tolong sematkan benang merah antara kamu dan saya, saat kamu butuhkan pakaian yang layak.

LENTERA. Nyalakan dalam kegelapan, sinarnya akan menemani.

Sama seperti saya pernah menemani kamu.

Padamkan jika pagi datang, begitulah caramu padamkan harapanku.

CABE RAWIT. Kunyahlah disetiap jam makanmu,

rasakan pedasnya tapi kamu menikmatinya sebagai sensasi "rasa" lain dalam menu mu.

Serupa "rasa" mencintaimu kepada saya,

anggaplah penambah sensasi dalam hidupmu.

Kamu berhenti dan jera ketika "sariawan". Tapi kamu tahu hambar "rasa" pada menu makanmu, hidupmu, tanpa CABE RAWIT.

Selasa, 02 Oktober 2012

Langkah Kaki


Seperti keputusan awal yang kita buat bersama dipertengahan kebersamaan kita
Setiap ketidakyakinan atas intervensi dari pihak lain
Kita masih memilih untuk saling percaya dan bersama
Percaya bahwa aku akan dapat menerimamu apa adanya
Percaya bahwa kamu akan menjadi yang tebaik,
Terbaik untuk setengah perjalanan usiaku mengenalmu,
Dan bersama selamanya untuk waktu yang kita tak pernah tahu sampai kapan.
Terpautnya hati dan sadarmenyadarkan akan sulit untuk bersama
Kita memilih untuk melakukannya
Aku berdiri di atas kakiku, kamupun demikian.
Kita sama-sama melangkah untuk satu tujuan di dua arah yang berbeda
Apalah itu yang kutahu bahwa kita saling mendekat!
Aku melangkah ke arah mu, kamu melangkah ke arah ku
Hingga pada akhirnya kita kan bertemu pada satu waktu-tempat-restu
Kelak mungkin kita akan menyerah, entah aku atau kamu
Tapi tolong, jangan terlalu cepat... biarkan...
Biarkan sampai pada titik hati ini terlalu lelah untuk memperjuangkan
Tidak saling meninggalkan atau ditinggalkan, peluhlah yang membuat demikian
Atau berilah kesempatan waktu untuk membuktikan tatkala kita tak sanggup mendengarkan suara hati

Waktu bisa buktikan, meski tak mampu memperingatkan 
Siapa yang datang, pergi, atau selamanya bertahan 
Atau waktu yang akan membiarkan bahwa peluh pun akan mengering dan menguap 
Hingga kita lupa saat kembali beristirahat dan saling bersandar
Sekarang ataupun nanti, berpeluh atau tertawa
Kamu telah mengenalku :)