Senin, 30 April 2012

Rabu, 25 April 2012

Saya mungkin tidak percaya pada karma, tapi Haqulyakin Allah itu Maha Adil

Senin, 23 April 2012

Malam di Kota Impian

Dia masih melingkarkan lengannya dipinggangku, seraya membisikan “kamu bahagia sekarang?”

Aku mengangguk perlahan, seolah tak ingin lengannya beralih. Dalam hati aku ingin bersorak bahagia karena bisa menghabiskan waktu dengannya lagi. Menikmati pergantian tahun dibawah langit malam dan hujan kembang api yang bertubi-tubi di salah satu sudut kota impian aku yang kini dijamah dia. Aku tersenyum, mengingat betapa naïfnya aku dulu dan kini aku yang nyaris memohon padanya untuk tak meninggalkanku. Aku bahagia untuk setiap wanita lain yang patah hati dan tersisihkan, bahagia kemenangan karena kini aku dapat menghabiskan waktu dengannya.

Malam ini aku kalah, berniat jual mahal dan tahan harga diri, tapi dada bidang berbingkai bahu tegapnya terlalu menggoda, meluluhkan setiap pertahananku. Leherku melemas, kepalaku terasa berat, aku sandarkan kepala ini pada dadanya. Dia merespon dengan gerak tubuh yang sangat aku kenal, badannya tetap rileks, aku salut pada kemampuannya mengendalikan diri.  Tangan lainnya kini membelai rambutku, kadang-kadang menggulung-gulungnya seperti spagethi dengan jarinya sebagai garpu. Aku menyukai saat-saat seperti ini. Sejak tujuh tahun yang lalu dia memang suka sekali memainkan rambutku. Dia suka mencium wangi rambutku sejak beraroma stroberi hingga kini beraroma campuran hibiscus dan mawar merekah. Aku bisa mendengar degup jantungnya kini, hembusan nafasnya menggelitik. Aku tertawa renyah, terlontar kata “aku kangen kamu yang dulu”.

Dia tersentak, menjauhkan kepalaku dari dadanya, namun aku tolak dengan usaha semakin membenamkan wajahku di dadanya. Dia tertawa, aku dengar seolah menertawakanku.

“Pasti mukamu merah sekarang?”

“Enggak! Biasa aja…”

“Kenapa ga mau lihat wajahku?”

“Bukan wajahmu, aku ga sanggup lihat matamu.”

Hening sesaat, kemudian dia tertawa seraya berkata, “Kamu dulu nganggep aku seperti apa?”

“Seperti apa adanya kamu”

“Tapi orang-orang menjelek-jelekan aku kan di depan kamu?”

“Aku ga ambil pusing, yang paling penting sikap kamu ke aku!”

“Terus kenapa dulu ambil keputusan sepihak buat mutusin aku, tanpa penjelasan?”

“Entahlah, mungkin aku masih terlalu kekanakan dulu. Maaf .. . “

“It’s ok! Meskipun aku sempat terluka, aku bahagia kamu tidak seperti yang lain”

“Seperti yang lain? Maksudmu apa?”

“mereka yang  menjelek-jelekan aku”

“errrr mungkin mereka ngefans sama kamu?”

Dia tertawa terbahak, hingga bahunya berguncang, aku bingung, tidak senang lebih tepatnya karena pelukannya kini melonggar. Sedikit menghardiknya,

“kamu kenapa?! Malah tertawa, apa ada yang lucu”

“hahaha, iya yang lucu itu kamu” sembari mencuil hidungku yang memang hanya secuil ini dengan gemas. “mana mungkin banyak orang ngefans aku, aku ga punya apa-apa untuk dibanggakan, aku bukan terlahir dari keluarga yang kaya. Apa yang mereka cari dari sekedar aku!”. Ada nada sedikit mengumpat pada kalimat terakhirnya.

Aku kebingungan dengan reaksinya, “kan aku bilang mungkin lho ya, jangan kegeeran dulu!” sembari memainkan jemariku di dadanya. 

Aku suka akhirnya perhatiannya kembali teralihkan pada diriku. Dia mengejar jemariku, menangkapnya dan menciumnya.

Di bangku Taman

Kamu.
Aku rasa tidak penting untuk mengatakannya kepada mu,
sebenarnya bukan tidak penting terlebih karena aku bingung untuk merangkainya dalam kata, menyampaikan kalimat secara tepat, bahkan menentukan huruf-huruf perangkainya aku kebingungan.
Entah huruf vokal atau konsonan terlebih dahulu yang harus aku tempatkan. Kompleks.
Ketika memilih kata yang terdiri dari empat huruf yang diawali dengan konsonan S, huruf vokal U posisi kedua, ketiga konsonan K dan terakhir vokal A. Rasanya tidak tepat sama sekali.
Karena ternyata kamu bukan seperti yang aku bayangkan dan aku inginkan. Tapi kamu memiliki sejuta pesona buatku.
Kamu menebar pesona, tapi hingga kini belum menuainya.
Ketika aku memilih kata yang selalu pujangga gunakan rasanya terlalu berlebihan.
Terlepas karena aku tahu betul bedanya gombal dengan romantis.
Kata "mencintai mu" itu terlalu sulit untuk aku maknai, karena sebenarnya aku hanya membutuhkan kamu ada disamping ku. Itu saja sudah cukup!
Sebenarnya saat kamu disamping aku, akan ada banyak hal yang dapat kamu ketahui tanpa aku harus mengucapkannya.
Kamu lihat, rasakan dan maknai segalanya.
Coba perhatikan pelangi, aku akan membantumu menguraikan mengenai warna pelangi padamu.
Nikmati langit sore, bersamaku rasakan saat orange hilang dan biru pun datang. Gradasi warnanya hadir menemani kita.
Aku ajak kamu menyelami lautan luas, maknai bahwa terumbu dan ikan dua makhluk dengan dimensi yang berbeda akan saling melindungi dan menopang kelangsungan hidup satu-sama lain secara bersamaan sangat indah hadir dalam satu frame pesona alam.

Pelangi itu membuat kita sadar bahwa perbedaan warna hanyalah pelengkap agar tampak indah, semuanya berasal dari satu apabila diuraikan. Putih lambang ketulusan dan hati yang suci.
Langit sore itu pertanda bahwa hidup memiliki dua-sisi, gelap dan terang. Kita takkan mampu menghindarinya, karena pada waktunya keduanya akan datang silih berganti tak pernah terlambat.
Mengenai terumbu karang dan ikannya? Ahh ya, aku tidak sedang berusaha membuatmu terikat denganku tapi alangkah indahnya jika kita ada dalam frame yang sama bukan? Bukan hanya ada aku, atau hanya ada kamu pada salah satu sudut. Ada kita, aku dan kamu, mengisi frame akan terlihat seimbang.
Yang dibutuhkan hanya temani aku duduk di bangku taman.

Minggu, 22 April 2012

#cumakamu

kasih ade alesan kenapa ade harus tetap bertahan? | aa sayang ade

Komunikasi


Tak menghubungi bukan berarti tak mengingatmu, 
bukan berarti aku sudah tak peduli lagi atau aku lelah menghubungimu. 
Aku melakukannya karena aku akan memberimu spasi, 
untuk melangkah dan bertindak sesuai logika dan kata hatimu. 
Jika memang dengan berjalan sendiri semuanya akan lebih baik.

Tak menghubungimu bukan berarti aku berhenti mengingatmu,
bukan berarti aku berhenti mendoakanmu.
Aku tetap mengingatmu dan mendoakanmu
minimalnya lima kali sehari didalam setiap sujudku.
Karena Tuhan Maha Mendengar meski terpisah jarak antara kita.

Tak menghubungimu bukan berarti aku sedang teramat-sibuk,
sejujurnya aku lebih sibuk memikirkanmu saat kita tak saling menyapa.
Aku kan tetap luangkan waktu untuk sekadar membalas pesan singkatmu
atau untuk mendengar suaramu yang sangat menyenangkan.
Karena perhatianmu yang selalu menghilangkan peluhku.

Tak menghubungimu bukan berarti aku tak ingin pula dihubungi olehmu
terkadang aku hanya ingin merasa dirindukan olehmu.
Atau melihat sejauh mana kamu bertahan tanpa kabar dariku
dan tertawa bahagia saat ternyata kamu menghubungiku lebih cepat dari yang ku kira.
Begitulah aku.

Agar kamu ketahui, kapanpun kamu menghubungi aku, aku akan meluangkan waktu untukmu
kapanpun kamu mengirimkan pesan singkat sesegera mungkin aku akan membalas.
Hanya karena aku selalu merindukanmu 
Tuhan jika memang dia jodohku, maka dekatkanlah. jika dia bukan jodohku, tolong dicek sekali lagi, barangkali ada yang salah :)

Sabtu, 21 April 2012

Shontelle - Impossible

Letter to all of you

Dear people, 

 

Please don't judge him by his cover. He's not perfect, I'm not either. But if he can make me laugh and feel warm at least once, causes I think twice. I want to hold on him because all I want is someone who will stay no matter how hard it is to be with me. 

Did you know that I really like his note "Jodoh ataupun enggak, Insya Allah kalo niatnya baik pasti jalannya juga baik buat kita" ? To tell you the truth, It's the best quote that I've ever heard.

Although in the end I've chosen the Wrong-One, the fault is not in our-LOVE. It's just because I've loved the wrong-people. He is just wrong for me, maybe He will good for another-one. We don't know and we never know until LOVE-itself has show-time.

Stupidly, I' falling in love with him. But everything we past by never we did stupidly. 

Thank's for gave me laugh, new perspective, open mind, and treat me like I'm his-fragile-baby.


Sincerely,

me ♥, 

a girl who can't against the world alone


Saya tidak paham apa itu cinta, dan saya tdk merasa sedang jatuh cinta. Saya hanya ingin jadi "penting" buat kamu, tanpa perlu awalan "ter-"

untuk kamu yang aku cintai dengan bodoh di 2012 :)
"Saya akan beri Anda kepercayaan, saya akan mengajari Anda keberanian" 
drg. Helmi Hirawan Sp.BM
Tanggal duapuluhdua kedua di tahunku yang ke duapuluhdua dan kali ini tidak berdua (sepertinya) :(

Jumat, 20 April 2012

Karena apa yang kamu inginkan tidak akan mudah kamu dapatkan. Perlu usaha dan doa. Kamu terlahir menjadi seorang pejuang (alm. Apa, 2008)

Kalo jodoh ga akan kemana, karena tulang rusuk ga akan tertukar. ♥

Sore Jingga Kelana


“Aku merasa, kamu merasa.
Kamu memilih diam dan aku menunggu. Hingga semuanya terlambat”



Aku tersenyum sendiri. Menikmati setiap gradasi warna yang berubah. Musim panas adalah musim kemenanganku dan sore adalah waktuku. Ada kehangatan yang kurasakan disela-sela jariku disertai kelembutan yang menggenggam. Aku menengadah menantang langit, aku yakin saat ini Tuhan sedang melukis langit dengan pena jingga kelananya. Tentu saja aku meyakininya seperti yang sering ayah ceritakan semasa hidupnya. Waktu terus berjalan dan aku sangat menyukainya, bahkan jika dapat kuhentikan pergeseran jarum jam akan kulakukan. Namun tentu saja itu hanya imaji yang tak akan mungkin terjadi, meski diusahakan waktu tak bisa ku kendalikan. Kini aku melihat jingga hilang dan biru pun mulai merambati langit. Tuhan telah bosan menggunakan pena jingga kelananya untuk hari ini. Kegiatan yang paling aku sukai sejak ayah telah tiada, sendiri atau ada yang menemani, seperti sore ini.
Telapak tangan kananku mulai berkeringat, sore di musim panas memang tetap hangat. Tapi kini berbeda, bukan karena udara dan cuaca. Sedari tadi temanku menikmati sore ada disampingku, menggenggam dan menatapku. Aku tak peduli karena terlalu sibuk melihat kertas gambar Tuhan di musim ini. 
Langit telah benar-benar berubah warna, kini menjadi sewarna tanpa gradasi, gelap dan jernih. Alam mengubah konstelasinya, tetap indah dengan taburan bintang dan bulan yang selalu setia pada bumi. Semilir angin semakin kencang. Aku tak bisa tetap pura-pura untuk mengabaikan ia yang ada disampingku. Tapi aku terlalu takut untuk memulai berbicara, otakku kosong tak ada ide untuk ku ubah menjadi sebuah topik menarik. Begitulah aku ketika menikmati alam, sedari kecil aku selalu menikmati alam dalam diam, ayahlah yang berceloteh dengan peluh di dahinya, mengubah apa yang terpetakan oleh indera penglihatan ke dalam pikiran dan hati. Kini, masih dalam diam, aku menikmati alam berdasarkan memori tentang ayah.
Semilir angin malam dan hembusan nafas saja yang menguasai malam itu. Dalam hati aku berhitung hingga sepuluh, pada hitungan kesepuluh itu aku akan membuat suasana ini menjadi berubah.
Enam! Hanya sampai hitungan keenam, dia mengalihkan pandangannya dari aku. Aku tersenyum, merasa lega karena mulai kaku dengan pandangannya, serba salah. Dia menatap langit, sekilas aku melirik dengan sudut mata dan melihat dia tersenyum saat melihat malam. Aku menunduk, leherku mulai pegal karena terlalu lama menengadah. Dia melepaskan genggamannya, aku menarik tangan.
“Langitnya indah ya?” tanyanya padaku,
“Aku lebih suka lembayung tadi” jujur aku menjawab
“Tapi malam kamu bisa melihat bintang, penunjuk arah buat nahkoda yang tersesat”
“Kamu membenci langit sore?” selidik ku ketus
Dia hanya tersenyum dan menggeleng. Aku bingung setengah mati akan jawabannya.
“Lantas apa yang kamu lakukan?” ujarku
“Bukan apa-apa, hanya ingin menemanimu.”
Aku menatapnya lama, dia tersenyum, mengelus rambutku dan mengacaknya perlahan.
“Apa yang kamu pikirkan? Tidak penting kenapa aku disini, aku akan selalu menemani kamu.”
***
            Rasanya aku telah menjadi gila, bagaimana bisa aku bertahan dengan wanita yang cukup aneh disampingku ini. Sedari tadi dia hanya menengadah, memandang langit yang berwarna jingga itu, dan aku sangat merasa dipusingkan. Rabun ayam. Sore seperti inilah yang tak berpihak kepadaku, seolah dunia menjauhiku. Tapi ada yang lain di soreku kini, aku memilih untuk memandangi sosok indah disampingku, semacam alien tapi ini cantik.
Astari, memang nama yang unik dan terdengar sangat familiar di telingaku. Sejak aku kenal dia seolah menjadi pusat perhatian, ya setidaknya bagiku. Entah rasanya tiba-tiba aku tidak bernyali, tak semudah sebelumnya. Aku mudah menafsirkan rasa, tidak kali ini. Aku hanya ingin bersamanya, aku tidak sedang jatuh cinta padanya. Aaah apalah artinya ini, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya. Itu saja sudah cukup bagiku. 
***
            Musim telah berganti, perputaran waktu setengah tahun terlewati. Kini aku ada di musim yang aku benci, dimana Tuhan seolah menumpahkan cat kelabu pada kertas gambarnya. Musim penghujan, musim dimana aku tak memiliki memori banyak tentang ayah. Hanya sekali aku dan ayah pernah menikmati alam di musim penghujan.
Di hari pertama musim penghujan ketujuh dalam hidupku, ayah mengajakku bersenang-senang dengan alam. Saat tanah masih sangat gersang, mendung pertama datang dan tetesan air berebut untuk saling melepaskan dahaga bumi. Aromanya, perpaduan panas tanah dan dinginnya air, sejuk menyegarkan dan tak akan terlupa. Aku suka, tapi rasanya aneh. Hujan di musim penghujan ketujuh itu sangat deras, ayah membiarkan aku berjalan tanpa alas kaki di rerumputan yang terbentang. Kaki telanjangku mulai melesak tanah becek, geli, dingin, dan yaaa sedikit menjijikan. Kemudian ayah mengajakku terlentang di rumput yang becek itu, aku turuti, sebenarnya aku mulai menggigil. Menyenangkan rasanya menantang langit dan menikmati tetesan air yang berebut menyentuh kulit, kami tertawa. Kemudian aku membuka mata dan melihat putih, masker oksigen terpasang, badanku demam, dada sesak sekali, tapi sangat merasa bertenaga, aneh.
Kini aku tahu dan ayah sangat menyesal, aku alergi terhadap dingin, kehujanan membuat asmaku kumat. Perasaan aneh itu akibat dari suntikan adrenalin. Mulai saat itulah aku membenci musim penghujan, tak ada acara menikmati alam bersama ayah, sejak saat itu di setiap musim penghujan, ayah memilih membiarkanku tetap di dalam rumah, membaca buku cerita atau membiarkanku bermain Nintendo sendirian sepuas hatiku.
Setiap musim penghujan gerak kakiku terbatas, setiap kegiatan yang kulakuan diluar ruangan harus aku selesaikan sebelum hujan datang. Tapi dia tetap menemani, kadang dengan kehadiran atau melalui teknologi. Banyak sore mendung yang kami habiskan bersama, meski hanya dengan menonton Sponge Bob di ruang tv rumahku bersama coklat panas atau kadang-kadang cupcakes coklat yang dibuatkan Ibu khusus buat Mas Bagas, begitu biasa Ibu memanggilnya. Aku sangat menyukai acara kartun Sponge Bob, tertawa bersama bahkan pada tayangan yang telah diputar berulang oleh stasiun televisi itu.
Sepertinya, musim panas ataupun penghujan aku tetap ingin menghabiskan waktu bersamanya.
***
Aku tidak tahu apa yang membuat dia begitu murung, sulit sekali mengajaknya keluar. Sejak sekitar satu bulan ini, aku kira dia menghindari aku karena penolakannya terhadap ajakanku bertemu. Sesekali aku mengunjungi rumahnya, berkenalan dengan Ibu nya yang ramah. Meski kami tetap bertemu, tetap aneh rasanya. Di rumahnya aku tak dapat leluasa memandanginya, banyak waktu kami habiskan hanya untuk menonton film kartun Sponge Bob yang sebenarnya tak ku mengerti tentang cerita makhluk kotak kuning itu. Tapi aku ikut senang saja melihat dia, Astari si alien cantik, tertawa terbahak-bahak saat adegan lucu. Aku hanya menikmati coklat panas dan sesekali cupcakes coklat yang disuguhkan.
Dia memang tergila-gila pada tokoh kartun kotak kuning itu, saat di kampus dia bercerita bahwa dia ingin sekali hidup di Bikini Bottom. Menu favoritnya di kantin kampus adalah beef burger dan dia selalu mengatakan crabby patty saat memesannya, abang penjual hanya tersenyum paham karena hapal.
Aku merasa terjebak dalam dunia yang sama sekali bukan aku, aku menikmatinya sekaligus khawatir. Dia seolah tak paham setiap isyarat yang aku tunjukkan. Dia tak peduli pada perhatianku. Seolah dia memiliki dunia sendiri dan berusaha membaginya denganku. Aku merasa tak mampu bertahan seperti ini, tapi jika menyerah, aku pun tak mampu bertahan tanpa dia.
***
Mungkin ini yang namanya orang bilang jatuh cinta. Aku tak butuh alasan karena memang tak ada penjelasan yang menyertai. Aku merasa dia lah pusat gravitasiku, sama halnya seperti gravitasi bumi membuat segalanya jatuh menuju bumi. Segalanya tertuju padanya, aku jatuh padanya, jatuh cinta pada Bagas.
Tidak banyak waktu yang kami habiskan bersama, tapi setiap pertemuannya begitu berarti. Tidak banyak cerita yang kami utarakan satu-sama-lain, tapi banyak mimpi yang menginspirasi satu sama lain. Saat dia disampingku segalanya menjadi bermakna, meski sederhana dan dalam diam, dia selalu ada menemaniku. Kini aku paham, aku akan melakukan hal yang sama, mencintainya dalam diam.
***
Musim panas telah datang kembali, tetap dengan pesonanya. Namun baru kali ini aku merasa bersedih memandang lembayung. Cukup saja satu kali musim panas dan satu kali musim penghujan yang dilalui bersama dia. Tak ada lagi teman yang menggenggam jemari saat langit berwarna jingga. Meski Tuhan melukis langit dengan pena jingga kelananya tapi hatiku kelabu. Aku telah terlambat, sama seperti musim panas yang terlambat datang disaat musim penghujan kala bumi mulai banyak berubah akibat rotasinya.
Penyesalan datang karena aku memilih diam, bahkan berulah pun aku tak mampu. Aku, wanita telah digariskan untuk menunggu, hanya mampu menerjemahkan isyarat yang ditunjukan pria, Bagas. Selanjutnya hanya mampu menunggu, menunggu semampuku dalam kesabaran.

***
Semuanya telah berubah, aku telah mengambil keputusan. Segala isyarat yang ku tuang dalam setiap tingkah-laku tak berarti, seolah aku telah bertransformasi menjadi sosok yang sangat “bukan aku”. Astari tak bergeming dengan segala perhatian dan kebaikan yang ku tujukan untuknya. Semuanya terasa sia-sia, terlalu mencolok jika aku memaksakan menikmati sore jingga bersamaan dengan rabun ayamku, atau aku harus tertawa pada ulah makhluk kuning yang berulang ditayangkan.
Musim panas kali ini aku mencoba menjadi diriku sendiri, mampu mengartikan rasa pada sosok anggun wanita, bukannya alien cantik. Mencoba manjalani sesuatu yang seharusnya aku jalani bersama Astari, melakukan sesuatu yang sesuai dengan akalku dan siapa diriku. Menikmati musim panas juga musim penghujan tanpa pengecualian. Musim panas telah berlalu seiring perputaran waktu.
Di musim penghujan kali ini, aku bisa menikmati hari dengan seseorang tanpa harus terkungkung di dalam rumah. Seperti hari ini misalnya, kami menikmati makan siang di café dan memilih kursi tenda di teras café dibawah rintik hujan yang membuat basah, toh di atas meja kami ada payungnya. Pelayan café berpakaian necis menghampiri,
“Pesan apa kak?”
Spontan aku menjawab, “Crabby patty-nya dua dengan ekstra mayonnaise ya, dan jus jeruk dua” aku merasa ganjil, suaraku sepertinya menggantung.
Crabby patty?”
“Ah ya maksudku beef burger
“Ada lagi kak?”
“Cukup itu saja.”
Setelah mengulang pesananku, pelayan tersebut meninggalkan kami dengan sangat sopannya.
“Sayang, aku baru tahu cowo kaya kamu ternyata masih suka nonton kartun.”
Aku terjebak, terjebak dalam kenangan bersama Astari. Kini aku merasa telah kehilangannya, ternyata hal yang awalnya tidak aku sukai perlahan telah aku biasakan dalam kehidupanku hingga aku merasakan saat telah kehilangan moment itu. Aku menyadari cinta tak butuh kesamaan, dalam perbedaan kami, aku dan Astari, saling melengkapi. Tapi waktu tak akan berputar mundur, sama seperti hujan; selalu jatuh dari langit menuju gravitasinya, tidak akan pernah terjadi melawan gravitasinya. Tidak pernah!
 

Akhir Tanpa Awal

Tuhan memang satu, hanya kita berdoa dengan cara yang tak sama.
Aku bersujud, kamu berlutut. Itu saja!

Dalam diam. Hanya terdengar bunyi sesapan Nakula saat menyesap espresso tanpa gulanya. Aku masih terdiam, mematung namun berusaha mengatur nafas, berusaha dengan keras sekedar mengedarkan oksigen dengan adil pada tubuh. Berusaha menahan butiran air mata yang menggenang di sudut mata dan kebingungan bagaimana aku merangkai kata untuk menjelaskan semuanya di hadapan Nakula.

Kesabaran Nakula memang patut diacungi jempol. Aku lupa kapan pertama kali kami saling mengenal, setahu aku selama ini dia selalu ada saat aku membutuhkan. Sekarang pun dengan kebingungannya, dia masih saja dengan sabar menemaniku dalam diam dihadapanku, lurus sejajar dengan tatapan mataku yang kosong dan nanar.

Aku tahu dia bingung dengan sikapku, sorot matanya kentara sekali antara bingung dan usahanya menahan emosi. Tapi aku telah kehilangan akal sehat. Dari sejak bertemu di café favorit ini, aku hanya menatapnya dengan mata nanar dan kehabisan kata-kata. Sementara dia datang dengan senyum sumringahnya dan mendekapku dengan tanggannya yang kokoh seraya mengucapkan “félicitations! vous avez réussi à mettre vos rêves dans votre main ‘.

Aku tahu dengan susah payah dia mengucapkannya dan tentu saja dengan pelafalan yang kacau, dia melakukannya buatku. Tapi bahkan untuk menghargai dengan membalasnya mengucap ‘merci’ pun aku tak sanggup. Rasanya dadaku sesak, ingin mengeluarkan butiran air mata dengan segera seolah aku sedang membendung air bah sungai. Tapi aku menahannya, aku mengajaknya ke cafe ini bukan untuk memperlihatkan air mata ini. Tidak-tidak ! seharusnya aku bahagia, tadi pagi pun aku meneleponnya dengan setengah menjerit bahagia.

Tanpa kusadari, Nakula menggenggam tanganku yang dari tadi memegang cangkir capuccino yang telah dingin. Dengan tersenyum manis dia berkata,
‘Membiarkan kopi menjadi dingin adalah menyedihkan ‘
Aku terharu dengan kesabarannya, aku membalasnya dengan tersenyum pahit.
‘ayolah Na, kita disini untuk merayakan kesuksesanmu bukan ? ayolah ! apa kamu ga senang dengan pencapaianmu ?‘
‘Oke kita pesan es krim mint besar favorit kita ya !’ aku pun memanggil pelayan. Saat pelayan yang aku panggil berjalan mendekat, Nakula berkata,
‘ Yakin pesan yang besar, kita kan cuma berdua dan tanpa si Rakus Bram? kamu sanggup habiskan ya ?’
Aku pun melongo, objek yang paling aku hindari dari semenjak aku mendapatkan surat penerimaan beasiswaku untuk belajar arsitektur di Prancis secara tersirat disinggung oleh Nakula.
Pikiranku berubah kelabu, kendali hatiku menggeliat, apa yang aku pertahankan di depan Nakula kini hancur lebur bersama air mata yang mengalir. Nakula hanya tertegun melihatku menangis.
                                             ***
Tiba-tiba aku mendengar lagu Incubus ‘wish you were here’ dari telepon selulerku. Aku tahu siapa yang menelepon, antara Kirana atau Bram. Dua sahabatku sejak kecil sekaligus tetanggaku. Ya ! Kami saling mengenal sejak rumah orang tua kami berdekatan dan satu kompleks. Rumah Kirana tepat disebelah rumahku, dan rumah Bram hanya terpisah 2blok saja. Buat mereka aku khususkan lagu ini sebagai nada deringnya. Dengan mata tertutup dan belum sadar betul, aku mencari-cari telepon selulerku. Tiba-tiba bunyinya berhenti, ah ya sudah aku melanjutkan tidurku saja aku pikir.  Baru saja berusaha tertidur lagi, telepon rumah ku berdering dan telponnya diangkat oleh ibu. Sayup-sayup aku mendengar suara ibuku sedang mengobrol akrab dengan penelepon itu. Aku tahu ini pasti orang yang sama yang menelepon nomor selulerku dan nomor telepon rumah.

‘Nakula, ada telepon dari Kirana. Ayo bangun !’ ibu berteriak memanggilku.

Aah ya tebakanku tepat. Dengan enggan aku membuka mata dan berusaha bangun dari tidur. Aku yakin suatu hal penting terjadi pagi ini, untuk apa Kirana menelepon aku pagi-pagi, dan dengan gigihnya sampai menelepon ke nomor rumah segala. Aku penasaran, seberapa penting kah kabar yang akan disampaikan sahabatku ini. Setengah berlari menuruni tangga aku menggapai telepon yang disodorkan ibuku.
                                                            ***
Sejak semalam aku tak bisa memejamkan mata barang sedetik pun, maka malam itu aku habiskan dengan membaca komik-komik hasil paksaan Nakula yang dimasukan ke apartemen ku. Aku tertawa sendiri mengingatnya, bagaimana ia membantu aku untuk pindahan. Dengan semangat 45 dia bersikukuh aku akan membutuhkan komik-komiknya untuk sekedar hiburan. Ya sejak aku memutuskan untuk hidup mandiri, tinggal di apartemen sendiri,Nakula lah yang paling semangat sekaligus khawatir melebihi Mama-Papa ku. Padahal aku tahu betul dia hanya akan kesepian karena aku tidak tinggal disebelah rumahnya lagi.

Akhirnya setelah shalat subuh aku tertidur pulas. Tiba-tiba terbangun oleh suara bel pintu. Pusing rasanya, mungkin aku baru tidur 2 jam. Bergegas menuju pintu depan, sedikit terheran, siapa pula yang bertamu sepagi ini ?

Aku mengintip dari celah pintu, ternyata pria berpakaian rapih di depan pintu, pengantar paket kiriman sepertinya. Sebuah amplop putih aku terima dari abang pengirim paket tersebut. Sepertinya isinya surat dengan tercetak logo yang aku kenali ! Jantungku langsung berdegup kencang, langsung ku buka amplop dan membaca isinya. Akhirnya mimpi ini menjadi kenyataan. Permohonan pengajuan beasiswa ku dikabulkan.

Aku harus segera memberi kabar pada Mama-Papa dan Nakula. Selesai mengabari Mama-Papa, aku segera menelepon Nakula, sialnya dia tidak menjawab teleponku. Aku hubungi ke nomor telepon rumahnya saja. Ternyata yang menjawab telepon ibu nya, aku pun berbasa-basi dengan ibunya, sudah lama juga aku tidak bertemu ibu Nakula yang sudah aku anggap ibu kandungku juga.

Dari sebrang telepon ada sapaan yang aku kenal betul ,
‘hallo ? ‘
‘Kula ! permohonan beasiswa ku dikabulkan ! ‘, setengah berteriak kegirangan aku sampaikan kabar gembira pada Nakula.
‘WOW ! keren banget, selamat Nana… akhirnya mimpimu tercapai.’
‘Iya aku seneng banget Kula, terima kasih yaa selalu dukung aku.’
‘Selalu Na ada nama kamu dan juga Bram dalam tiap do’a ku. Alhamdulillah, satu persatu impian kita tercapai ya, perlahan tapi pasti. Ya kan Na ? Asyik dong, kapan nih acara syukurannya ? ‘

Byar ! tiba-tiba seperti ada petir menyambar, Bram ! Nama yang menjadi alasan aku untuk memilih tinggal di apartemen, nama yang selama hampir 8 bulan ini aku hindari. Alasan kedua betapa aku ingin melanjutkan sekolah ke Prancis, sahabat terbaik sekaligus pria yang membuatku patah hati. Aku terdiam dengan pikiran berkecamuk dan nafas yang menjadi sesak untuk beberapa saat, cukup lama dan semakin sesak aku menyadarinya.

‘Na ? Na ? Are you okay ?’, suara Nakula menyentakkan lamunan ku. Tergagap dan kaget aku menjawabnya,
‘Aaah ya ya, oke oke siang ini ke cafe biasa ya, aku traktir kamu deh. Makan sepuasnya ya .’

Hari itu pun kami memeutuskan untuk mengunjungi cafe favorit kami, aku, Nakula dan Bram, tapi kali ini hanya aku dan Nakula. Tidak mungkin kami mengajak Bram, karena Bram sedang menjalani masa ko-ass di sebuah RS di kota Medan.
Tapi pikiranku melayang dan gamang memikirkan Bram, beasiswa S2 di Prancis dan pertemuan siang nanti dengan Nakula. Semua benteng pertahanan yang selama ini aku bangun antara aku dan Bram dalam benakku kini hancur berkeping-keping, aku tak suka untuk memikirkannya. Aku hanya bisa menangis, menangis pilu.
                                                                        ***
Kirana, yang tadi pagi aku dengar jeritan bahagianya, yang membuatku sempat bertengkar dengan Sadewa, saudara kembarku, siang ini kini menangis dihadapan ku. Aku kira siang ini aku akan melihat celotehan tanpa hentinya dan ambisinya, ternyata aku bertemu dengan kondisi yang menyedihkan. Mata bengkak, mulut terkunci dan aku yakin dia lupa menata rambutnya, tidak seperti Kirana yang aku kenal yang selalu tampil anggun, rapi dan mandiri, kini ia tampak rapuh dan mengerikan.

Aku bingung dengan ‘diam’-nya, dan kini aku bingung melihat air matanya. Untuk beberapa saat aku membiarkannya menangis, aku menghitung dalam hati hingga hitungan keseratus. Aku pun berpindah tempat duduk, kini tepat disampingnya. Aku hanya menempelkan telapak tanganku di bahunya, isakannya pun mereda, kini ia berhenti terisak. Kirana berusaha menghapus air matanya, dan memalingkan wajah sembabnya padaku. Ia berusaha tersenyum, tersenyum pahit dan terlalu memaksakan seraya berkata ;
‘Maaf membuatmu bingung’
‘Setelah membuatku bingung dan seolah aku ini monster dihadapanmu, hanya maaf saja yang bisa kamu ucapkan ? Aku butuh penjelasan Na.’

Raut muka Kirana berubah menjadi sedikit terkejut, tapi aku hampir tak peduli lagi dengan suasana hatinya saat ini, aku butuh penjelasan segera akan keanehannya hari ini. Aku merasa, aku patut mengetahuinya.
‘Apa yang terjadi, kamu tampak kacau sekali hari ini ? Aku tiba-tiba merasa asing, kamu bukan Kirana yang aku kenal !’
Sebenarnya bukan aku bermaksud kejam pada Kirana, tapi sebagai sahabatnya aku merasa benar-benar khawatir dan merasa ketakutan akan apa yang terjadi padanya.
‘Aku baik-baik saja Kula, apa yang ingin kamu tahu ? Tanpa memintanya pun aku telah memberi tahu kamu. Aku sangat menginginkan sekolah di Prancis, kamu tahu, aku mencari beasiswa untuk itu kamu tahu. Dan kini permohonan beasiswa ku dikabulkan pun kamu orang ketiga yang tahu setelah Mama-Papa ku.’

Aku tahu dalam ucapannya terbersit kepedihan, dan melihatnya aku hanya merasa ketakutan dan bahkan sedikit egois ingin memaksanya untuk bercerita, tapi aku tahu aku tak kan sanggup melakukannya. Aku hanya mampu menghela nafas panjang sebelum berkata ;
‘Aku tahu ada yang kamu sembunyikan, tapi ya sudahlah itu pilihan mu untuk membiarkan aku tetap tak mengetahuinya. Aku hanya tidak ingin melihat air matamu untuk alasan yang sama, well, sebenarnya untuk alasan apapun itu aku tak suka melihat air mata. Karena kamu tampak buruk dengan air mata itu.’

Aku lihat senyumnya, kali ini senyum tulus, tanpa aku duga dia memeluk ku erat, naluriah aku balik mendekapnya erat. Kirana menyandarkan kepalanya dibahuku, aku tahu semuanya akan kembali baik-baik saja.
                                                                        ***
#Medan
Sejak pagi hingga siang ini kota Medan terus basah oleh gerimis, setelah kemarin malam diguyur hujan deras. Entahlah meskipun hari ini pasienku tidak banyak, tapi aku merasa suram menghadapi hari ini. Padahal biasanya sebagai dokter muda aku selalu senang saat pasien ku tidak banyak, artinya aku bisa benar-benar fokus pada pasien yang ada dan tidak merasa lelah, tapi hari ini lain. Aku berharap ini cuma masalah cuaca saja yang membuat aku malas menjalani hari ini, sugesti bahwa aku memang benci musim penghujan. Tapi hati kecilku tahu jawaban yang sebenarnya, aku hanya berpura-pura tidak mendengarnya. Biarkan, biarkan aku bertahan dengan keegoisanku.

Memang benar hati tak bisa dibohongi, aku tahu hari ini pengajuan permohonan beasiswa Kirana akan diumumkan. Ingin rasanya aku segera menghubunginya dan berharap pengajuannya ditolak. Tapi akan aneh rasanya setelah berbulan-bulan kami tak saling berkomunikasi cukup baik, dalam rentang waktu tersebut hanya sekali saja kami berkomunikasi, saat Nakula dan Sadewa berulang tahun saat itu kami kebingungan kado apa yang kami berikan untuk Nakula. Setelah hampir lima tahun kebelakang aku menjaga jarak dengan Kirana, akan menjadi tak sebanding rasa sakit selama penghindaran ini dengan keputusan jika aku menelepon Kirana. Aku bingung, menyerah pada keputusasaan. Aku memilih berdiam diri saja di gereja, daripada bertindak lain.
                                                                        ***
#Lima tahun lalu
Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul dalam benak ku,
‘mungkinkah Tuhan menciptakan jodoh untukku yang berbeda…agamanya ?’
Aku lihat raut mukanya yang berubah, mengeras kini. Baru aku menyadari aku bodoh sekali, kenapa tiba-tiba seberani itu mengucapkannya.
‘Maksudmu kemungkinan itu adalah aku ?’
Aku mengangguk yakin mendengar pertanyaan retoris dari Bram. Sebelum melanjutkan berbicara, aku lihat Bram menghela nafas panjang dan memejamkan matanya.
‘Kirana, kamu harus tahu Tuhan tidak sedang bermain dadu. Dan aku tidak ingin kita bermain-main dengan ‘kemungkinan’ itu lebih jauh lagi. ‘
‘Kita tidak sedang bermain-main dengan kemungkinan, aku hanya mempertimbangkan peluang yang dapat terjadi antara kita. Di keluargaku, Mama dan Papa membebaskan aku untuk memilihnya, dan mereka menyukai mu.’
‘Kirana dengar ! ini bukan hanya persoalan aku, keluarga ku, kamu dan kedua orang tuamu. Ini persoalan keyakinan ku, keyakinan mu. Aku yakin agama mu tidak menyetujuinya begitu pun dengan agama ku.’
‘Dan mengenai perasaan ini kau abaikan ? Bukankah Tuhan melengkapi manusia dengan perasaan ini ?’
‘Kamu lupa satu hal, Tuhan menciptakan perasaan bersama dengan akal pikiran, maka pikirkan lah ! Sebaiknya kita sudahi saja apa yang belum kita mulai.’
Entahlah aku membenci ide Bram, menyudahi apa yang belum dimulai sama sekali. Sakit rasanya, tapi aku tahu Bram ada benarnya, sekarang atau nanti ini akan disudahi.
                                                            ***
Hari ini nyaris membuatku gila, tingkah Kirana yang tanpa tedeng eling-eling berubah 180 derajat membuatku kewalahan. Nyaris 20tahun saling mengenal, hari ini aku merasa baru mengenal dia. Rasanya waktu yg telah kami lalui selama ini hanya intermezzo, dan hari inilah kehidupan yang sesungguhnya. Tiba-tiba aku merasa ketakutan yang amat sangat, membayangkannya saja membuatku mual.
"mungkinkah Tuhan menciptakan jodoh untukku yang berbeda....agamanya?"pertanyaan Kirana membuatku paham,aku mengerti tapi tak mampu menjawab.

Pertanyaan itu terlontar saja dari mulut Kirana, aku terdiam, kaku, bahkan untuk menelan ludah saja sulit. Kirana menoleh dan kini air matanya membentuk sungai pada pipinya yang bulat.

Kini mulai terangkai semua kilasan-kilasan kenangan persahabatan antara aku, Kirana dan Bram. Aku pernah mencurigai hal ini, Kirana mencintai Bram, entahlah atau Bram yang mencintai Kirana. Kini aku yakin, mereka pernah saling mencintai. Entah kapan ini berawal, sejak pertama kali mereka bertemu, sejak mulai pubertas, atau sejak mulai memasuki Perguruan Tinggi, yang aku tahu beberapa bulan kebelakang secara mendadak Bram mengumumkan kota Medan sebagai tempatnya ko-ass, jauh dari kami yang selalu bersama. Saat itulah Kirana mulai menginginkan beasiswanya. Seolah menjauhi aku, bukan tapi Bram dan Kirana saling menjauh dan akulah terkena imbas harus kehilangan mereka berdua secara bersamaan. Tiba-tiba hatiku pilu, tenggorokanku tercekat melihat Kirana menangis sedih padahal ini bukan pertama kalinya Kirana menangis dihadapan aku, tangisnya yang kedua kalinya dalam satu hari ini. Baru aku menyadari, pilu ini bukan karena aku melihat kepedihan di mata Kirana, pilu ini telah menyentuh hati ‘pria’-ku. Kirana dan Bram. Ya aku cemburu !

Diam itu (bukan) Emas

Diam bukan berarti iya, bukan juga tidak.

Diam mungkin sedang berfikir, atau semuanya ada diluar jangkauannya.

Diam itu emas. Tapi tahu kah para penganut paham ini?

Bahwa tidak semua orang mempunyai indera ke-6 buat tahu apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan. Bicaralah! Agar semuanya menjadi jelas sesuai maksud.

Dengan berbicara akan ada dua kemungkinan, terjadi kesepakatan atau kesalahpahaman.
Kesepakatan itu yang dimaksud, salahpaham tinggal diperjelas agar sesuai maksud.

Jika diam, hanya ada satu kemungkinan: semuanya tidak akan pernah jelas sampai kapanpun.
Biar waktu yang akan membuktikan, tapi percayalah kita sedang berkejaran dengan waktu.
Itu saja

fetty dan secangkir kopi aceh

Air Sirup

aku dan kamu tidak seperti minyak dan air yg selalu terpisah,
aku dan kamu adalah air dan sirup,
dengan komposisi yang tepat terasa manis

air dan sirup yang butuh goncangan untuk bercampur dan berasa manis
yang paling penting adalah tercetus penawaran "mau sirup?" antara kita.

kita bisa pilih warna kita sesuai selera.
bisa merah, hijau, jingga, atau aku serahkan kamu untuk memilih warnanya.
yang perlu kamu ingat, aku ingin rasanya tetap manis

bukan. kita bukan air dan kopi.
air dan kopi terasa pahit dan butuh latte agar dikatakan enak.
tidak. cukup aku dan kamu saja tanpa pihak ketiga.

kapan kamu akan menawari aku air sirup?