Malam di Kota Impian
Dia masih melingkarkan lengannya dipinggangku, seraya
membisikan “kamu bahagia sekarang?”
Aku mengangguk perlahan, seolah tak ingin lengannya beralih.
Dalam hati aku ingin bersorak bahagia karena bisa menghabiskan waktu dengannya
lagi. Menikmati pergantian tahun dibawah langit malam dan hujan kembang api
yang bertubi-tubi di salah satu sudut kota impian aku yang kini dijamah dia.
Aku tersenyum, mengingat betapa naïfnya aku dulu dan kini aku yang nyaris
memohon padanya untuk tak meninggalkanku. Aku bahagia untuk setiap wanita lain
yang patah hati dan tersisihkan, bahagia kemenangan karena kini aku dapat
menghabiskan waktu dengannya.
Malam ini aku kalah, berniat jual mahal dan tahan harga
diri, tapi dada bidang berbingkai bahu tegapnya terlalu menggoda, meluluhkan
setiap pertahananku. Leherku melemas, kepalaku terasa berat, aku sandarkan
kepala ini pada dadanya. Dia merespon dengan gerak tubuh yang sangat aku kenal,
badannya tetap rileks, aku salut pada kemampuannya mengendalikan diri. Tangan lainnya kini membelai rambutku,
kadang-kadang menggulung-gulungnya seperti spagethi dengan jarinya sebagai
garpu. Aku menyukai saat-saat seperti ini. Sejak tujuh tahun yang lalu dia
memang suka sekali memainkan rambutku. Dia suka mencium wangi rambutku sejak beraroma
stroberi hingga kini beraroma campuran hibiscus dan mawar merekah. Aku bisa
mendengar degup jantungnya kini, hembusan nafasnya menggelitik. Aku tertawa
renyah, terlontar kata “aku kangen kamu yang dulu”.
Dia tersentak, menjauhkan kepalaku dari dadanya, namun aku
tolak dengan usaha semakin membenamkan wajahku di dadanya. Dia tertawa, aku
dengar seolah menertawakanku.
“Pasti mukamu merah sekarang?”
“Enggak! Biasa aja…”
“Kenapa ga mau lihat wajahku?”
“Bukan wajahmu, aku ga sanggup lihat matamu.”
Hening sesaat, kemudian dia tertawa seraya berkata, “Kamu
dulu nganggep aku seperti apa?”
“Seperti apa adanya kamu”
“Tapi orang-orang menjelek-jelekan aku kan di depan kamu?”
“Aku ga ambil pusing, yang paling penting sikap kamu ke
aku!”
“Terus kenapa dulu ambil keputusan sepihak buat mutusin aku,
tanpa penjelasan?”
“Entahlah, mungkin aku masih terlalu kekanakan dulu. Maaf ..
. “
“It’s ok! Meskipun aku sempat terluka, aku bahagia kamu
tidak seperti yang lain”
“Seperti yang lain? Maksudmu apa?”
“mereka yang menjelek-jelekan
aku”
“errrr mungkin mereka ngefans sama kamu?”
Dia tertawa terbahak, hingga bahunya berguncang, aku
bingung, tidak senang lebih tepatnya karena pelukannya kini melonggar. Sedikit
menghardiknya,
“kamu kenapa?! Malah tertawa, apa ada yang lucu”
“hahaha, iya yang lucu itu kamu” sembari mencuil hidungku
yang memang hanya secuil ini dengan gemas. “mana mungkin banyak orang ngefans
aku, aku ga punya apa-apa untuk dibanggakan, aku bukan terlahir dari keluarga
yang kaya. Apa yang mereka cari dari sekedar aku!”. Ada nada sedikit mengumpat
pada kalimat terakhirnya.
Aku kebingungan dengan reaksinya, “kan aku bilang mungkin
lho ya, jangan kegeeran dulu!” sembari memainkan jemariku di dadanya.
Aku suka akhirnya perhatiannya kembali teralihkan pada
diriku. Dia mengejar jemariku, menangkapnya dan menciumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar