Senin, 23 April 2012

Malam di Kota Impian

Dia masih melingkarkan lengannya dipinggangku, seraya membisikan “kamu bahagia sekarang?”

Aku mengangguk perlahan, seolah tak ingin lengannya beralih. Dalam hati aku ingin bersorak bahagia karena bisa menghabiskan waktu dengannya lagi. Menikmati pergantian tahun dibawah langit malam dan hujan kembang api yang bertubi-tubi di salah satu sudut kota impian aku yang kini dijamah dia. Aku tersenyum, mengingat betapa naïfnya aku dulu dan kini aku yang nyaris memohon padanya untuk tak meninggalkanku. Aku bahagia untuk setiap wanita lain yang patah hati dan tersisihkan, bahagia kemenangan karena kini aku dapat menghabiskan waktu dengannya.

Malam ini aku kalah, berniat jual mahal dan tahan harga diri, tapi dada bidang berbingkai bahu tegapnya terlalu menggoda, meluluhkan setiap pertahananku. Leherku melemas, kepalaku terasa berat, aku sandarkan kepala ini pada dadanya. Dia merespon dengan gerak tubuh yang sangat aku kenal, badannya tetap rileks, aku salut pada kemampuannya mengendalikan diri.  Tangan lainnya kini membelai rambutku, kadang-kadang menggulung-gulungnya seperti spagethi dengan jarinya sebagai garpu. Aku menyukai saat-saat seperti ini. Sejak tujuh tahun yang lalu dia memang suka sekali memainkan rambutku. Dia suka mencium wangi rambutku sejak beraroma stroberi hingga kini beraroma campuran hibiscus dan mawar merekah. Aku bisa mendengar degup jantungnya kini, hembusan nafasnya menggelitik. Aku tertawa renyah, terlontar kata “aku kangen kamu yang dulu”.

Dia tersentak, menjauhkan kepalaku dari dadanya, namun aku tolak dengan usaha semakin membenamkan wajahku di dadanya. Dia tertawa, aku dengar seolah menertawakanku.

“Pasti mukamu merah sekarang?”

“Enggak! Biasa aja…”

“Kenapa ga mau lihat wajahku?”

“Bukan wajahmu, aku ga sanggup lihat matamu.”

Hening sesaat, kemudian dia tertawa seraya berkata, “Kamu dulu nganggep aku seperti apa?”

“Seperti apa adanya kamu”

“Tapi orang-orang menjelek-jelekan aku kan di depan kamu?”

“Aku ga ambil pusing, yang paling penting sikap kamu ke aku!”

“Terus kenapa dulu ambil keputusan sepihak buat mutusin aku, tanpa penjelasan?”

“Entahlah, mungkin aku masih terlalu kekanakan dulu. Maaf .. . “

“It’s ok! Meskipun aku sempat terluka, aku bahagia kamu tidak seperti yang lain”

“Seperti yang lain? Maksudmu apa?”

“mereka yang  menjelek-jelekan aku”

“errrr mungkin mereka ngefans sama kamu?”

Dia tertawa terbahak, hingga bahunya berguncang, aku bingung, tidak senang lebih tepatnya karena pelukannya kini melonggar. Sedikit menghardiknya,

“kamu kenapa?! Malah tertawa, apa ada yang lucu”

“hahaha, iya yang lucu itu kamu” sembari mencuil hidungku yang memang hanya secuil ini dengan gemas. “mana mungkin banyak orang ngefans aku, aku ga punya apa-apa untuk dibanggakan, aku bukan terlahir dari keluarga yang kaya. Apa yang mereka cari dari sekedar aku!”. Ada nada sedikit mengumpat pada kalimat terakhirnya.

Aku kebingungan dengan reaksinya, “kan aku bilang mungkin lho ya, jangan kegeeran dulu!” sembari memainkan jemariku di dadanya. 

Aku suka akhirnya perhatiannya kembali teralihkan pada diriku. Dia mengejar jemariku, menangkapnya dan menciumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar