Tuhan memang satu, hanya kita berdoa dengan cara yang tak sama.
Aku bersujud, kamu berlutut. Itu saja!
Dalam diam. Hanya terdengar bunyi sesapan Nakula saat menyesap espresso tanpa gulanya. Aku masih terdiam, mematung namun berusaha mengatur nafas, berusaha dengan keras sekedar mengedarkan oksigen dengan adil pada tubuh. Berusaha menahan butiran air mata yang menggenang di sudut mata dan kebingungan bagaimana aku merangkai kata untuk menjelaskan semuanya di hadapan Nakula.
Kesabaran Nakula memang patut diacungi jempol. Aku lupa kapan pertama kali kami saling mengenal, setahu aku selama ini dia selalu ada saat aku membutuhkan. Sekarang pun dengan kebingungannya, dia masih saja dengan sabar menemaniku dalam diam dihadapanku, lurus sejajar dengan tatapan mataku yang kosong dan nanar.
Aku tahu dia bingung dengan sikapku, sorot matanya kentara sekali antara bingung dan usahanya menahan emosi. Tapi aku telah kehilangan akal sehat. Dari sejak bertemu di café favorit ini, aku hanya menatapnya dengan mata nanar dan kehabisan kata-kata. Sementara dia datang dengan senyum sumringahnya dan mendekapku dengan tanggannya yang kokoh seraya mengucapkan “félicitations! vous avez réussi à mettre vos rêves dans votre main ‘.
Aku tahu dengan susah payah dia mengucapkannya dan tentu saja dengan pelafalan yang kacau, dia melakukannya buatku. Tapi bahkan untuk menghargai dengan membalasnya mengucap ‘merci’ pun aku tak sanggup. Rasanya dadaku sesak, ingin mengeluarkan butiran air mata dengan segera seolah aku sedang membendung air bah sungai. Tapi aku menahannya, aku mengajaknya ke cafe ini bukan untuk memperlihatkan air mata ini. Tidak-tidak ! seharusnya aku bahagia, tadi pagi pun aku meneleponnya dengan setengah menjerit bahagia.
Tanpa kusadari, Nakula menggenggam tanganku yang dari tadi memegang cangkir capuccino yang telah dingin. Dengan tersenyum manis dia berkata,
‘Membiarkan kopi menjadi dingin adalah menyedihkan ‘
Aku terharu dengan kesabarannya, aku membalasnya dengan tersenyum pahit.
‘ayolah Na, kita disini untuk merayakan kesuksesanmu bukan ? ayolah ! apa kamu ga senang dengan pencapaianmu ?‘
‘Oke kita pesan es krim mint besar favorit kita ya !’ aku pun memanggil pelayan. Saat pelayan yang aku panggil berjalan mendekat, Nakula berkata,
‘ Yakin pesan yang besar, kita kan cuma berdua dan tanpa si Rakus Bram? kamu sanggup habiskan ya ?’
Aku pun melongo, objek yang paling aku hindari dari semenjak aku mendapatkan surat penerimaan beasiswaku untuk belajar arsitektur di Prancis secara tersirat disinggung oleh Nakula.
Pikiranku berubah kelabu, kendali hatiku menggeliat, apa yang aku pertahankan di depan Nakula kini hancur lebur bersama air mata yang mengalir. Nakula hanya tertegun melihatku menangis.
***
Tiba-tiba aku mendengar lagu Incubus ‘wish you were here’ dari telepon selulerku. Aku tahu siapa yang menelepon, antara Kirana atau Bram. Dua sahabatku sejak kecil sekaligus tetanggaku. Ya ! Kami saling mengenal sejak rumah orang tua kami berdekatan dan satu kompleks. Rumah Kirana tepat disebelah rumahku, dan rumah Bram hanya terpisah 2blok saja. Buat mereka aku khususkan lagu ini sebagai nada deringnya. Dengan mata tertutup dan belum sadar betul, aku mencari-cari telepon selulerku. Tiba-tiba bunyinya berhenti, ah ya sudah aku melanjutkan tidurku saja aku pikir. Baru saja berusaha tertidur lagi, telepon rumah ku berdering dan telponnya diangkat oleh ibu. Sayup-sayup aku mendengar suara ibuku sedang mengobrol akrab dengan penelepon itu. Aku tahu ini pasti orang yang sama yang menelepon nomor selulerku dan nomor telepon rumah.
‘Nakula, ada telepon dari Kirana. Ayo bangun !’ ibu berteriak memanggilku.
Aah ya tebakanku tepat. Dengan enggan aku membuka mata dan berusaha bangun dari tidur. Aku yakin suatu hal penting terjadi pagi ini, untuk apa Kirana menelepon aku pagi-pagi, dan dengan gigihnya sampai menelepon ke nomor rumah segala. Aku penasaran, seberapa penting kah kabar yang akan disampaikan sahabatku ini. Setengah berlari menuruni tangga aku menggapai telepon yang disodorkan ibuku.
***
Sejak semalam aku tak bisa memejamkan mata barang sedetik pun, maka malam itu aku habiskan dengan membaca komik-komik hasil paksaan Nakula yang dimasukan ke apartemen ku. Aku tertawa sendiri mengingatnya, bagaimana ia membantu aku untuk pindahan. Dengan semangat 45 dia bersikukuh aku akan membutuhkan komik-komiknya untuk sekedar hiburan. Ya sejak aku memutuskan untuk hidup mandiri, tinggal di apartemen sendiri,Nakula lah yang paling semangat sekaligus khawatir melebihi Mama-Papa ku. Padahal aku tahu betul dia hanya akan kesepian karena aku tidak tinggal disebelah rumahnya lagi.
Akhirnya setelah shalat subuh aku tertidur pulas. Tiba-tiba terbangun oleh suara bel pintu. Pusing rasanya, mungkin aku baru tidur 2 jam. Bergegas menuju pintu depan, sedikit terheran, siapa pula yang bertamu sepagi ini ?
Aku mengintip dari celah pintu, ternyata pria berpakaian rapih di depan pintu, pengantar paket kiriman sepertinya. Sebuah amplop putih aku terima dari abang pengirim paket tersebut. Sepertinya isinya surat dengan tercetak logo yang aku kenali ! Jantungku langsung berdegup kencang, langsung ku buka amplop dan membaca isinya. Akhirnya mimpi ini menjadi kenyataan. Permohonan pengajuan beasiswa ku dikabulkan.
Aku harus segera memberi kabar pada Mama-Papa dan Nakula. Selesai mengabari Mama-Papa, aku segera menelepon Nakula, sialnya dia tidak menjawab teleponku. Aku hubungi ke nomor telepon rumahnya saja. Ternyata yang menjawab telepon ibu nya, aku pun berbasa-basi dengan ibunya, sudah lama juga aku tidak bertemu ibu Nakula yang sudah aku anggap ibu kandungku juga.
Dari sebrang telepon ada sapaan yang aku kenal betul ,
‘hallo ? ‘
‘Kula ! permohonan beasiswa ku dikabulkan ! ‘, setengah berteriak kegirangan aku sampaikan kabar gembira pada Nakula.
‘WOW ! keren banget, selamat Nana… akhirnya mimpimu tercapai.’
‘Iya aku seneng banget Kula, terima kasih yaa selalu dukung aku.’
‘Selalu Na ada nama kamu dan juga Bram dalam tiap do’a ku. Alhamdulillah, satu persatu impian kita tercapai ya, perlahan tapi pasti. Ya kan Na ? Asyik dong, kapan nih acara syukurannya ? ‘
Byar ! tiba-tiba seperti ada petir menyambar, Bram ! Nama yang menjadi alasan aku untuk memilih tinggal di apartemen, nama yang selama hampir 8 bulan ini aku hindari. Alasan kedua betapa aku ingin melanjutkan sekolah ke Prancis, sahabat terbaik sekaligus pria yang membuatku patah hati. Aku terdiam dengan pikiran berkecamuk dan nafas yang menjadi sesak untuk beberapa saat, cukup lama dan semakin sesak aku menyadarinya.
‘Na ? Na ? Are you okay ?’, suara Nakula menyentakkan lamunan ku. Tergagap dan kaget aku menjawabnya,
‘Aaah ya ya, oke oke siang ini ke cafe biasa ya, aku traktir kamu deh. Makan sepuasnya ya .’
Hari itu pun kami memeutuskan untuk mengunjungi cafe favorit kami, aku, Nakula dan Bram, tapi kali ini hanya aku dan Nakula. Tidak mungkin kami mengajak Bram, karena Bram sedang menjalani masa ko-ass di sebuah RS di kota Medan.
Tapi pikiranku melayang dan gamang memikirkan Bram, beasiswa S2 di Prancis dan pertemuan siang nanti dengan Nakula. Semua benteng pertahanan yang selama ini aku bangun antara aku dan Bram dalam benakku kini hancur berkeping-keping, aku tak suka untuk memikirkannya. Aku hanya bisa menangis, menangis pilu.
***
Kirana, yang tadi pagi aku dengar jeritan bahagianya, yang membuatku sempat bertengkar dengan Sadewa, saudara kembarku, siang ini kini menangis dihadapan ku. Aku kira siang ini aku akan melihat celotehan tanpa hentinya dan ambisinya, ternyata aku bertemu dengan kondisi yang menyedihkan. Mata bengkak, mulut terkunci dan aku yakin dia lupa menata rambutnya, tidak seperti Kirana yang aku kenal yang selalu tampil anggun, rapi dan mandiri, kini ia tampak rapuh dan mengerikan.
Aku bingung dengan ‘diam’-nya, dan kini aku bingung melihat air matanya. Untuk beberapa saat aku membiarkannya menangis, aku menghitung dalam hati hingga hitungan keseratus. Aku pun berpindah tempat duduk, kini tepat disampingnya. Aku hanya menempelkan telapak tanganku di bahunya, isakannya pun mereda, kini ia berhenti terisak. Kirana berusaha menghapus air matanya, dan memalingkan wajah sembabnya padaku. Ia berusaha tersenyum, tersenyum pahit dan terlalu memaksakan seraya berkata ;
‘Maaf membuatmu bingung’
‘Setelah membuatku bingung dan seolah aku ini monster dihadapanmu, hanya maaf saja yang bisa kamu ucapkan ? Aku butuh penjelasan Na.’
Raut muka Kirana berubah menjadi sedikit terkejut, tapi aku hampir tak peduli lagi dengan suasana hatinya saat ini, aku butuh penjelasan segera akan keanehannya hari ini. Aku merasa, aku patut mengetahuinya.
‘Apa yang terjadi, kamu tampak kacau sekali hari ini ? Aku tiba-tiba merasa asing, kamu bukan Kirana yang aku kenal !’
Sebenarnya bukan aku bermaksud kejam pada Kirana, tapi sebagai sahabatnya aku merasa benar-benar khawatir dan merasa ketakutan akan apa yang terjadi padanya.
‘Aku baik-baik saja Kula, apa yang ingin kamu tahu ? Tanpa memintanya pun aku telah memberi tahu kamu. Aku sangat menginginkan sekolah di Prancis, kamu tahu, aku mencari beasiswa untuk itu kamu tahu. Dan kini permohonan beasiswa ku dikabulkan pun kamu orang ketiga yang tahu setelah Mama-Papa ku.’
Aku tahu dalam ucapannya terbersit kepedihan, dan melihatnya aku hanya merasa ketakutan dan bahkan sedikit egois ingin memaksanya untuk bercerita, tapi aku tahu aku tak kan sanggup melakukannya. Aku hanya mampu menghela nafas panjang sebelum berkata ;
‘Aku tahu ada yang kamu sembunyikan, tapi ya sudahlah itu pilihan mu untuk membiarkan aku tetap tak mengetahuinya. Aku hanya tidak ingin melihat air matamu untuk alasan yang sama, well, sebenarnya untuk alasan apapun itu aku tak suka melihat air mata. Karena kamu tampak buruk dengan air mata itu.’
Aku lihat senyumnya, kali ini senyum tulus, tanpa aku duga dia memeluk ku erat, naluriah aku balik mendekapnya erat. Kirana menyandarkan kepalanya dibahuku, aku tahu semuanya akan kembali baik-baik saja.
***
#Medan
Sejak pagi hingga siang ini kota Medan terus basah oleh gerimis, setelah kemarin malam diguyur hujan deras. Entahlah meskipun hari ini pasienku tidak banyak, tapi aku merasa suram menghadapi hari ini. Padahal biasanya sebagai dokter muda aku selalu senang saat pasien ku tidak banyak, artinya aku bisa benar-benar fokus pada pasien yang ada dan tidak merasa lelah, tapi hari ini lain. Aku berharap ini cuma masalah cuaca saja yang membuat aku malas menjalani hari ini, sugesti bahwa aku memang benci musim penghujan. Tapi hati kecilku tahu jawaban yang sebenarnya, aku hanya berpura-pura tidak mendengarnya. Biarkan, biarkan aku bertahan dengan keegoisanku.
Memang benar hati tak bisa dibohongi, aku tahu hari ini pengajuan permohonan beasiswa Kirana akan diumumkan. Ingin rasanya aku segera menghubunginya dan berharap pengajuannya ditolak. Tapi akan aneh rasanya setelah berbulan-bulan kami tak saling berkomunikasi cukup baik, dalam rentang waktu tersebut hanya sekali saja kami berkomunikasi, saat Nakula dan Sadewa berulang tahun saat itu kami kebingungan kado apa yang kami berikan untuk Nakula. Setelah hampir lima tahun kebelakang aku menjaga jarak dengan Kirana, akan menjadi tak sebanding rasa sakit selama penghindaran ini dengan keputusan jika aku menelepon Kirana. Aku bingung, menyerah pada keputusasaan. Aku memilih berdiam diri saja di gereja, daripada bertindak lain.
***
#Lima tahun lalu
Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul dalam benak ku,
‘mungkinkah Tuhan menciptakan jodoh untukku yang berbeda…agamanya ?’
Aku lihat raut mukanya yang berubah, mengeras kini. Baru aku menyadari aku bodoh sekali, kenapa tiba-tiba seberani itu mengucapkannya.
‘Maksudmu kemungkinan itu adalah aku ?’
Aku mengangguk yakin mendengar pertanyaan retoris dari Bram. Sebelum melanjutkan berbicara, aku lihat Bram menghela nafas panjang dan memejamkan matanya.
‘Kirana, kamu harus tahu Tuhan tidak sedang bermain dadu. Dan aku tidak ingin kita bermain-main dengan ‘kemungkinan’ itu lebih jauh lagi. ‘
‘Kita tidak sedang bermain-main dengan kemungkinan, aku hanya mempertimbangkan peluang yang dapat terjadi antara kita. Di keluargaku, Mama dan Papa membebaskan aku untuk memilihnya, dan mereka menyukai mu.’
‘Kirana dengar ! ini bukan hanya persoalan aku, keluarga ku, kamu dan kedua orang tuamu. Ini persoalan keyakinan ku, keyakinan mu. Aku yakin agama mu tidak menyetujuinya begitu pun dengan agama ku.’
‘Dan mengenai perasaan ini kau abaikan ? Bukankah Tuhan melengkapi manusia dengan perasaan ini ?’
‘Kamu lupa satu hal, Tuhan menciptakan perasaan bersama dengan akal pikiran, maka pikirkan lah ! Sebaiknya kita sudahi saja apa yang belum kita mulai.’
Entahlah aku membenci ide Bram, menyudahi apa yang belum dimulai sama sekali. Sakit rasanya, tapi aku tahu Bram ada benarnya, sekarang atau nanti ini akan disudahi.
***
Hari ini nyaris membuatku gila, tingkah Kirana yang tanpa tedeng eling-eling berubah 180 derajat membuatku kewalahan. Nyaris 20tahun saling mengenal, hari ini aku merasa baru mengenal dia. Rasanya waktu yg telah kami lalui selama ini hanya intermezzo, dan hari inilah kehidupan yang sesungguhnya. Tiba-tiba aku merasa ketakutan yang amat sangat, membayangkannya saja membuatku mual.
"mungkinkah Tuhan menciptakan jodoh untukku yang berbeda....agamanya?"pertanyaan Kirana membuatku paham,aku mengerti tapi tak mampu menjawab.
Pertanyaan itu terlontar saja dari mulut Kirana, aku terdiam, kaku, bahkan untuk menelan ludah saja sulit. Kirana menoleh dan kini air matanya membentuk sungai pada pipinya yang bulat.
Kini mulai terangkai semua kilasan-kilasan kenangan persahabatan antara aku, Kirana dan Bram. Aku pernah mencurigai hal ini, Kirana mencintai Bram, entahlah atau Bram yang mencintai Kirana. Kini aku yakin, mereka pernah saling mencintai. Entah kapan ini berawal, sejak pertama kali mereka bertemu, sejak mulai pubertas, atau sejak mulai memasuki Perguruan Tinggi, yang aku tahu beberapa bulan kebelakang secara mendadak Bram mengumumkan kota Medan sebagai tempatnya ko-ass, jauh dari kami yang selalu bersama. Saat itulah Kirana mulai menginginkan beasiswanya. Seolah menjauhi aku, bukan tapi Bram dan Kirana saling menjauh dan akulah terkena imbas harus kehilangan mereka berdua secara bersamaan. Tiba-tiba hatiku pilu, tenggorokanku tercekat melihat Kirana menangis sedih padahal ini bukan pertama kalinya Kirana menangis dihadapan aku, tangisnya yang kedua kalinya dalam satu hari ini. Baru aku menyadari, pilu ini bukan karena aku melihat kepedihan di mata Kirana, pilu ini telah menyentuh hati ‘pria’-ku. Kirana dan Bram. Ya aku cemburu !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar